SEJARAH PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK TRADISIONAL DI TIRTOMOYO TAHUN 1950-2000 (I)

SEJARAH PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK TRADISIONAL DI TIRTOMOYO TAHUN 1950-2000 (I)

SEJARAH PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK TRADISIONAL DI TIRTOMOYO TAHUN 1950-2000 (1)
Gilang Christian W.


PENDAHULUAN

Kebudayaan adalah suatu sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan bagian dari manusia dengan cara belajar, dengan kemampuan akal budinya, manusia telah mengembangkan berbagai sistem tindakan, mulai dari yang sangat sederhana ke arah yang lebih kompleks sesuai kebutuhannya. Seperti yang diketahui bahwa ada 7 unsur kebudayan, dan kesenian adalah salah satunya.

Menurut beberapa ahli sejarah, batik yang berasal dari Indonesia, khususnya di Pulau
Jawa, semula berasal dari India. Batik pada awal mulanya di bawa oleh para pedagang India yang kala itu sedang melakukan perdagangan dengan pedagang-pedagang pribumi di pulau Jawa. Dari proses tukar menukar barang dagangan itu, selanjutnya melahirkan informasi pemahaman tentang batik. Lambat laun orang-orang Jawa mulai mengenal batik yang kemudian memodifikasinya, dan mengembangkan dengan menggunakan bahan baku dan bahan penunjang lainnya, sehingga berubah bentuk menjadi kain pakaian yang memiliki ciri-ciri Indonesia.

Batik Wonogiren secara harfiah adalah tekstil tradisi khas wilayah Wonogiri (kabupaten), dibuat atau diproduksi dengan menggunakan teknik batik atau cretan lilin (malam atau waxresist) di atas kain. Tekstil tersebut bukan asli dari Wonogiri, apabila dilihat dari awal kemunculannya. Nama Batik Wonogirenan berasal dari seorang seniwati batik asal Pura Mangkunegaran (Surakarta) bernama Kanjeng Wonogiren atau Raden Ayu Handayaningrat, istri seorang Bupati Wonogiri (menjabat pada zaman pra kemerdekaan RI). Ia mengabdi saat bertahtanya KGPAA Mangkunegaran VII sampai VIII. Kanjeng Wonogiren adalah kreator tekstil tradisi ini. Kata “wonogiren” pada istilah batik Wonogiren bukan berasal dari kata “wonogiri” mendapat akhiran–an, sehingga menunjukkan kepemilikan atau asal, tetapi nama Kanjeng Wonogiren. Namanya digunakan untuk menyebut kain batik, karena terkenal dengan babaran atau cara memberi warna pada batik. Istilah tersebut diberikan oleh masyarakat pemakai batik karya beliau dan pembatik yang masih keturunan keluarga bangsawan Pura Mangkunegaran. Babaran Kanjeng Wonogiren menghasikan warna lembut, bersih, dan lebih muda, dibandingkan dengan babaran batik beredar saat itu, yang cenderung gelap dan tajam, karena mayoritas pewarna memakai bahan alami sejenis rempah, yakni soga jambal (Pelthoporum Ferrigineum). Bahan tersebut menghasilkan warna coklat sawo dan gelap, sebagai ciri khas Batik Surakarta.

Batik Wonogiren kemunculannya berawal dari kegiatan membatik, tepatnya di Kecamatan Tirtomoyo. Batik Wonogiren memiliki ciri khas motif retakan-retakan disebut
dengan remakan atau remukan. Motif remukan tidak sekedar menjadi ciri khas, tetapi bagian dari batik Wonogiren. Hal tersebut menambah nilai estetika, yang membedakan dengan karya batik dari daerah lain. Nilai estetika tersebut bersifat objektif dan murni terlihat pada garis, bentuk, serta warna


METODE PENELITIAN

Metode yang dilakukan dalam penelitian adalah metode sejarah. Metode sejarah
merupakan proses mengumpulkan, menguji, dan menganalisis secara kritis terhadap rekamanrekaman peninggalan pada masa lampau dan usaha-usaha melakukan sintesa dari data-data masa lampau menandai kajian yang dapat dipercaya. Penelitian ini adalah penelitian sejarah, sehingga metode relevan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah.

Proses metode sejarah meliputi empat tahapan yakni:
Tahap pertama adalah heuristik yaitu mencari dan mengumpulkan sumber-sumber
mengenai sejarah perkembangan batik di Tirtomoyo serta dokumen-dokumen lainnya yang sesuai dengan permasalahan yang diperoleh dari berbagai sumber. Buku-buku dan sumbersumber sekunder yang berhubungan dengan topik permasalahan dan tema penelitian diperoleh dari kepustakaan di Perpustakaan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta, Perpustakaan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran Surakarta.

Tahap Kedua, metode wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data yang
dilaksanakan secara lisan dari seorang narasumber. Wawancara dilakukan terhadap pihak-pihak yang saling berkepentingan guna meng-crosschek keabsahan data. Wawancara dilakukan secara langsung dengan Teguh (Camat Tirtomoyo), Tarmi (Pengusaha batik Tirtomoyo), Satiyem (Petani), Darto (Petani), Kaharudin Ahmad (Pengusaha Batik), dan Wiyono (Pedagang).

Tahap ketiga adalah kritik sumber, terdiri dari kritik intern dan ekstern. Kritik intern
merupakan kritik yang meliputi tulisan, kata-kata, bahasa dan analisa verbal serta tentang kalimat yang berguna sebagai validitas sumber atau untuk membuktikan bahwa sumber tersebut dapat dipercaya. Kritik ekstern, meliputi material yang digunakan guna mencapai kredibilitas sumber atau keaslian sumber tersebut.

Tahap keempat adalah interpretasi atau penafsiran, yaitu menafsirkan keterangan-
keterangan yang saling berhubungan dengan fakta-fakta yang diperoleh. Analisa data
merupakan kegiatan pengklarifikasian data yang terkumpul dalam suatu pola, kategori, dan suatu uraian sehingga dapat ditemukan kerangka berfikir yang mendukung hipotesa kajian.

Tahap kelima adalah historiografi yaitu proses penulisan sejarah sebagai langkah akhir
dari penelitian sejarah.


PEMBAHASAN

Batik Tirtomoyo asal mulanya dari Keraton Surakarta. Pada awalnya batik di dalam
kerajaan atau keraton hanya merupakan kerja sambilan bagi putri keraton yang nantinya akan dipersembahkan untuk kekasihnya, juga untuk kepentingan (pakaian) raja dan para kerabat keraton. Raja hanya memilih orang-orang pandai membatik yang dikhususkan berdiam di keraton untuk membuat kain batik. Oleh karena raja dan seluruh kerabat keraton memerlukan kain batik, maka raja mengutus para lurah mencari daerah penghasil batik. Melalui lurah tersebut di dapat daerah Laweyan yang menjadi pusat pembuatan kain batik di wilayah kekuasaan Keraton Surakarta. Laweyan sendiri berasal dari kata Lawe yang artinya benang, karena pada zaman dahulu tempat ini adalah tempat pembuatan kain tenun. Mulai dari sinilah kain batik berkembang semakin besar dan dampaknya mulai menjalar ke pelosok daerah teruatama daerah
Tirtomoyo yang merupakan pusat dari kegiatan batik di daerah Wonogiri.

Masyarakat di wilayah pembatikan Kecamatan Tirtomoyo memiliki peran berupa
persepsi dan partisipasi penting dalam pengembangan desain Batik Wonogiren. Hal tersebut salah satu kontribusi penting guna menyumbang kekayaan jenis motif batik Nusantara umumnya, dan khususnya di wilayah Tirtomoyo. Subjek yang tepat untuk mengetahui secara langsung perihal pengembangan desain Batik Wonogiren melalui interaksi langsung dengan masyarakat pelaku.

Desain Batik Wonogiren merupakan objek yang muncul karena ide atau gagasan
masyarakat, dalam hal ini perajin merupakan yang memutuskan persepsi masyarakat berupa ide, sebagai wujudnya adalah partisipasi dengan memvisualisasikannya ke sebuah bentuk. Perajin dimaksud adalah pihak yang berpartisipasi aktif mempunyai ide untuk membuat suatu motif dan mengaplikasikan pada kain, meskipun tidak sampai tahap akhir proses pembatikan. Pada akhirnya timbul keinginan pengusaha batik Tirtomoyo untuk menjual batik kepada rakyat biasa dengan harga yang terjangkau oleh mereka karena dahulu masyarakat masih memakai kain tenun yang disebut kain lurik.

Oleh karena itu, pengusaha batik Tirtomoyo kemudian memproduksi batik tulis dengan batik cap dan juga cara menyoganya dari bahanbahan kimia, supaya lebih cepat proses pembuatannya. Disamping itu harganya menjadi lebih terjangkau oleh rakyat biasa namun tidak meninggalkan bentuk aslinya. Akan tetapi alat yang untuk mengecap pada waktu itu masih menggunakan cap dari kayu, dengan motif-motif yang masih sangat sederhana sekali yaitu dengan bentuk yang besar-besar dan cecek-ceceknya (isen
bulat kecil pada motif batik) pun tak dapat rapi dan halus.

Oleh karena dengan kayu kurang efisien, maka pada tahun 1950-an dibuatlah cap yang terbuat dari tembaga yang tahan lama. Alat ini disebut canting cap dan batiknya disebut batik cap. Alat tersebut dibuat agar dapat memproduksi dalam jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat, tetapi dengan adanya alatalat yang modern ini bukan berarti lalu Tirtomoyo meninggalkan batik tulis. Bahkan membuat batik tulis, batik cap juga campuran batik cap dan batik tulis.

Batik tulis dan batik cap berkembang berdampingan sampai saat ini. Ditinjau dari halus
tidaknya, maka batik tulislah yang lebih halus daripada batik cap. Batik tulis motif motifnya lebih hidup karena dibuat dengan rasa seni atau unsur seni masih ada didalamnya. Sedangkan walaupun batik cap prosesnya jauh lebih cepat dari batik tulis tetapi hasil batik cap ini agak berbeda dengan batik tulis. Dari segi ketepatan pengulangan bentuk canting cap lebih menjamin, akan tetapi dari kesempurnaan goresan kurang baik. Batikan cap sering kali tidak tembus dan
kadang-kadang di lain sisi tembus, bahkan blobor.

Semakin majunya teknologi, pada sekitar tahun 1960-an ditemukan alat pembuatan batik dengan “printing” atau “sablon” dengan alat cap yang terbuat dari kain yang telah dilukis dan bagian tepinya diberi plangkan (kayu) dengan ukuran lebar 80 cm dan panjang menurut lebar mori/cambric. Batik ini terkenal dengan batik printing. Proses dari pada cara ini lebih cepat dengan kalkulasi yang rendah sebab batik ini tidak memakai cara di cap dengan malam dahulu, dan tidak juga melered (membabar), akan tetapi mori di cap langsung dengan motif yang dikehendaki.

Menurut Nian S. Djoemena,6 secara garis besar terdapat 2 golongan ragam hias batik,
yaitu ragam hias geometris dan ragam hias non-geometris. Yang termasuk golongan geometris adalah:
1. Garis miring atau parang
2. Garis silang atau ceplok
3. Anyaman dan Limar

Yang termasuk golongan non-geometris adalah:
1. Semen, terdiri dari flora, fauna, meru, lar dan sejenis itu yang ditata secara serasi.
2. Lunglungan
3. Buketan, dari kata bahasa Prancis atau Belanda bonquet jelas merupakan ragam hias
pengaruh dari luar dan termasuk ragam hias pesisir.

Dalam perkembangannya, motif-motif batik yang menjadi larangan tersebut tampaknya
telah menjadi pakaian kebanyakan sehari-hari. Setiap penciptaan motif batik klasik pada mulanya selalu diciptakan dengan makna simbolisme dalam falsafah Jawa. Maksud dari usaha penciptaan pada jaman itu agar memberi kesejahteraan, ketenteraman, kewibawaan dan kemuliaan serta memberi tanda status sosial bagi si pemakai dalam masyarakat.

Motif batik tidak dibuat secara sembarangan, tetapi mengikuti aturan-aturan yang ketat. Hal ini dapat dipahami karena pembuatan batik yang sering dihubungkan dengan mitologi, harapan-harapan, penanda gender, status sosial, anggota klan, bahkan dipercaya mempunyai kekuatan gaib. Motif batik Jawa mempunyai hubungan dengan status sosial, kepercayaan, dan harapan bagi si pemakai.

Mengenai kebudayaan seni batik di Tirtomoyo secara berangsur-angsur mengalami
proses perubahan bentuk, variasi sesuai dengan kebudayaan yang mewarnai pada masa
pembuatannya. Sebelum masuknya budaya dari luar, seni batik di Indonesia masih sederhana. Dalam proses perkembangannya seni batik Tirtomoyo mengikuti kemajuan zaman, sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknik-teknik mekanis yang baru. Ragam hias batik Tirtomoyo pada mulanya mengikuti ragam hias batik dari kerajaan atau kraton. Ragam hias tersebut merupakan ragam hias yang telah baku atau istilah jawanya “dipakemkan”. Sebagai contoh ragam hias yang telah baku, antara lain: ragam hias Kawung, Sawat, dan Parang.

Masyarakat Tirtomoyo sudah memiliki perusahaan industri kerajinan batik meskipun
masih sangat sederhana. Ruang gerak mereka masih sangat terbatas dan hanya menjadi pengusaha kecil, kedudukan keuangan mereka masih sangat lemah dan kesempatan untuk maju masih sangat minim. Hal ini dikarenakan politik pemerintah Hindia Belanda yang sangat menekan kemajuan bangsa Indonesia disegala bidang kehidupan masyarakat. Pemerintah Hindia Belanda dalam perdagangan dan ekonomi lebih percaya pada masyarakat pendatang yaitu masyarakat Tiong Hoa dan Arab. Mereka diharapkan mampu menekan kemajuan ekonomi dan perdagangan para bumiputera dengan cara memberikan perlindungan dan hak istimewa kepada
golongan tersebut daripada kepada pedagang asli Indonesia. Akibat tindakan pemerintah Hindia Belanda yang diskriminasi itu kedudukan pedagangan batik bangsa Indonesia yang sudah lemah itu semakin terdesak kedudukannya daripada pedagang bangsa Tiong Hoa dan Arab.

Teknik membuat batik tradisional meliputi seluruh proses pekerjaan yang cukup panjang terhadap kain mori sejak dari permulaan hingga menjadi kain batik. Pekerjaan ini meliputi tahap persiapan dan tahap pokok. Pada tahap persiapan maka yang dikerjakan adalah mempersiapkan kain mori sehingga siap untuk dibatik, yaitu (1) memotong mori sesuai dengan ukuran yang dikehendaki; (2) mencuci (nggirah atau ngetel); (3) menganji (nganji) dan (4) menyetrika (ngemplong).

Pada tahap pokok proses pembatikan yang sebenarnya dimulai, yaitu meliputi tiga macam pekerjaan: (1) pembuatan motif batik dengan melekatkan lilin batik (malam) pada kain. Ada beberapa cara pelekatan lilin ini, yaitu dengan dilekatkan atau ditulis dengan alat yang disebut canting, canting cap, atau dilukis dengan kuwas (jegul). Lilin atau malam adalah campuran dari beberapa bahan, seperti gondorukem, matakucing, parafin atau microwox, lemak atau minyak nabati, dan kadang-kadang dicampur dengan lilin lebah atau lanceng; (2) pewarnaan batik yang dilakukan dengan cara menyelupkan pada zat pewarna; dan (3) menghilangkan lilin pada kain yang disebut denga ngerok, nglorod, ngebyok atau mbabar. Demikianlah proses produksi pembuatan batik secara singkat.



Desa Tirtomoyo, Kecamatan Tirtomoyo, Kab. Wonogiri.
3
Wiyono
50 tahun
Pedagang
Desa Batu Tengah, Kecamatan Baturetno, Kab. Wonogiri


Bagikan Artikel SEJARAH PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK TRADISIONAL DI TIRTOMOYO TAHUN 1950-2000 (I)


Komentar Untuk SEJARAH PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK TRADISIONAL DI TIRTOMOYO TAHUN 1950-2000 (I)