SEJARAH PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK TRADISIONAL DI TIRTOMOYO TAHUN 1950-2000 (II)

SEJARAH PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK TRADISIONAL DI TIRTOMOYO TAHUN 1950-2000 (II)

SEJARAH PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK TRADISIONAL DI TIRTOMOYO TAHUN 1950-2000 (II) 
Gilang Christian W.

 

Sistem kerja dalam usaha industri kerajinan batik

Sistem kerja yang diselenggarakan para pengusaha batik di daerah Tirtomoyo adalah
sebagai berikut:

a. Garap langsung
Adalah suatu sistem kerja dimana para seluruh pengrajin batik harus menyelesaikan
pekerjaannya di tempat pengusaha batik. Baik yang masih menggunakan rumahnya sebagai bengkel kerjanya maupun yang sudah mempunyai bengkel sendiri.
Garap langsung ini lebih mudah dilakukan untuk buruh pengrajin batik pria dari pada buruh pengrajin wanita. Sebab lebih mudah dijalankan buruh pengrajin pria karena tahapan yang harus dijalankan pada umumnya tidak memungkinkan untuk dibawa pulang. Memerlukan peralatan dan ramuan khusus untuk tahapan pekerjaannya, yang perlu mendapat pengawasan mandiri dari pihak pengusaha batik.

Sedangkan tahapan pekerjaan yang dijalankan untuk buruh pengrajin batik wanita,
dimungkinkan untuk dibawa pulang, karena hanya menggunakan peralatan yang sederhana dalam menyelesaikan tahapan pekerjaannya. Pada sistem garap lansung ini upah yang berlaku untuk buruh pengrajin pria adalah dengn upah harian, sedangkan untuk buruh pengrajin wanita dengan upah borongan.

b. Garap luar atau Sanggan.
Adalah suatu sistem kerja dimana pengusaha batik membagi-bagikan bahan pada buruh
pengrajin batik untuk dikerjakan di rumah mereka masing – masing dengan diberi upah
borongan. Kerja langsung atau sanggan ini bagi buruh pengrajin batik sangat menguntungkan, sebab selain dikerjakan dirumah, waktu mengerjakannya bisa sewaktu – waktu. Untuk tahap pengerjaannya dapat mengerahkan anggota keluarganya.


Pemasaran Batik

Masalah pemasaran sangat penting karena berhasil tidaknya pemasaran menentukan
kelangsungan hidup perusahaan. Bila pemasaran berhenti akan berakibat pula timbulnya suatu penumpukan hasil produksi dari perusahaan. Pentingnya pemasaran ini berlaku pula dalam perusahaan industri kerajinan batik di Tirtomoyo. Para pengusaha batik di Tirtomoyo menjual hasil produksinya dengan cara menjual langsung ke konsumen maupun kepada pedagang perantara. Para pedagang perantara tingkat
desa umumnya adalah pedagang kecil eceran yaitu para pedagang yang menjual eceran langsung kepada konsumen. Para pedagang tingkat desa ini datang sendiri ke tempat pengusaha batik untuk mengadakan transaksi pembelian batik secara kecil – kecilan kemudian menjualnya lagi ke pasar – pasar tingkat desa sampai pasar tingkat kabupaten.

Pedagang perantara tingkat kota adalah para pedagang tingkat menengah, yaitu pedagang yang mampu membeli cukup banyak hasil produksi batik dari pengusaha dan membawa dagangannya sendiri menuju kota, kemudian menjualnya ke sejumlah pasar yang ada di kabupaten Wonogiri maupun yang ada di Surakarta yaitu pasar Klewer.

Dalam usaha-usaha pengembangan batik Tirtomoyo tidak terlepas dari usaha yang
dilakukan oleh pemerintah, pengusaha dan pengrajin sendiri. Dukungan terhadap pengembangan batik Tirtomoyo, antara lain :
a. Pemerintah berusaha membina pengrajin agar mampu menjadi pengrajin mandiri, sehingga tidak tergantung lagi pada pengusaha-pengusaha Cina.
b. Bagi para pengusaha diberikan dispensasi dalam peminjaman modal di bank berupa KIK (Kredit Investasi Kecil). Mereka diberi kemudahan-kemudahan peminjaman.
c. Para pengusaha batik berusaha menciptakan kreasi-kreasi baru dalam motif batik, baik dengan mengambil motif-motif dari daerah lain ataupun dengan melahirkan kreasi sendiri, namun tetap mempertahankan ciri khas Tirtomoyo.
d. Usaha yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan, yaitu berusaha
mengenalkan motif-motif kreasi baru yang diambil dari daerah lain dan juga pengenalan
terhadap teknologi baru.

Dalam upaya melestarikan batik Tirtomoyo, pemerintah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan Wonogiri melakukan beberapa upaya-upaya:
a. Memberikan penyuluhan tentang cara-cara pembuatan batik dan motif-motif batik kreasi baru.
b. Memberikan pendidikan ketrampilan membatik pada para pengrajin, khususnya generasi mudanya sebagai pewaris kebudayaan bangsa.
c. Memberikan bimbingan agar nantinya para pengrajin mampu menjadi pengrajin yang
mandiri dan mampu menciptakan kreasi-kreasi baru sendiri.
d. Mengadakan pengadaan dan penyediaan bahan bagi pengrajin yang kekurangan modal.
e. Memberikan informasi tentang keadaan pasar batik, teknik-teknik membatik yang baru.
f. Menempatkan kerajinan batik ini kedalam ruang cindera mata di Kotamadya agar nantinya setiap pengunjung dapat melihat secara langsung.
g. Mengikutsertakan batik Tirtomoyo dalam pameran-pameran baik yang bersifat nasional maupun internasional.

Perkembangan batik di Tirtomoyo mulai pesat ketika Koperasi batik yang bergabung
dalam GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia) turut membantu para pengusaha dalam penyediaan bahan mentah berupa kain mori dan obat pewarna untuk batik. Dalam kondisi demikian para pengusaha batik Tirtomoyo memperoleh keuntungan yang melimpah, karena melalui koperasi diperoleh kain mori maupun obat-obat pewarna batik dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan harga di pasaran bebas, selain itu koperasi turut pula dalam membantu permodalan bagi para pengusaha dan pemasaran kain batik. Pada waktu itu pemerintah juga sedang aktif meningkatkan kekuatan ekonomi nasional, khususnya pengusaha pribumi melalui Rencana Urgensi Perekonomian dan Program Benteng. Kebijakan ini secara eksplisit berusaha melindungi dan mengembangkan pengusaha-pengusaha pribumi serta menekan pengusaha-pengusaha dari kalangan Cina. Hal ini dilakukan dengan jalan menyediakan
konsesi impor alokasi devisa dan kredit hanya bagi pengusaha-pengusaha pribumi.

Kejayaan batik tradisional Tirtomoyo menjadikan Tirtomoyo dikenal sebagai sentra
kerajinan batik di Wonogiri. Hampir seluruh masyarakat Tirtomoyo menggantungkan hidupnya dari usaha batik. Sebagai pemilik perusahaan maupun menjadi buruh di perusahaan-perusahaan batik hubungan kekeluargaan diantara para pengusaha batik pun sangat kuat. Para pengusaha batik ini membentuk ikatan kerja sama melalui hubungan keluarga untuk menguasai pasaran dan saling menjaga kelangsungan modalnya masing-masing. Tirtomoyo juga dikenal sebagai kampung yang sangat maju, berkat pesatnya perkembangan perusahaan-perusahaan batik tradisional. Para pengusaha batik berlomba membangun rumah yang mewah, dengan ciri khas
dinding atau temboknya yang tinggi. Selain itu didirikannya pabrik mori, sebagai bahan baku batik turut berperan pula meningkatkan taraf hidup masyarakat Tirtomoyo, karena pabrik mori tersebut menyerap cukup banyak tenaga kerja.

Memasuki masa Orde Baru, industri tenun dan batik Tirtomoyo menunjukkan suatu
gejala kemerosotan. Perkembangan nilai produksi kain mori maupun batik tidak sepesat dalam periode 1960-1965.11 Gejala kemerosotan industri tenun maupun batik Tirtomoyo di masa Orde Baru ini disebabkan karena:
1. Bahan Baku yang Sulit Diperoleh
2. Upah dan Tenaga Kerja
3. Persaingan dengan industri tekstil dan batik modern
4. Kelemahan Modal Pemasaran

Menurut penuturan salah seorang pedagang batik, seiring dengan perkembangan zaman motif batik semakin kompleks, karena tuntutan pasar dan untuk keperluan industri, para pengusaha cenderung memilih cara pembuatan batik yang lebih cepat dan modern, maka yang terjadi banyak pengusaha yang meniru, menembak motif lantaran antara batik printing dan batik tulis jika tidak cermat sulit untuk membedakannya. Akhirnya hal tersebut mewabah ke manamana tidak hanya pada batik, tetapi juga pada jenis-jenis kain yang lain. Mereka berlomba ke dalam motif yang bagus dan murah. Sekarang ini banyak terjadi kekaburan tentang motif batik yang asli atau baku, karena banyak bermunculan motif-motif tiruan yang lebih bervariasi, meskipun banyak pula motif yang hampir mirip dengan motif asli. Namun sebenarnya jika dicermati terdapat perbedaan mendasar antara batik tulis dan batik printing, yaitu batik tulis tidak
konsisten dalam corak dan klowongannya. Juga ada perbedaan mana yang bagian luar dan mana yang bagian dalamnya.

Ketika era batik telah datang pada tahun 1990-an, pengrajin batik yang secara historis
punya hak moral untuk menikmati kejayaan batik, ternyata harus gigit jari. Menurut Departemen Perindustrian, dari puluhan ribu industri rumahan yang pernah ada, kini hanya tinggal 5.000-an industri rumahan yang masih aktif di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dampak pasang surutnya industri batik terjadi karena perubahan konsep dari ali baba menjadi baba ali. Konsep ali baba adalah suatu kebijakan yng dilakukan pengusaha cina meminta kerja sama dari pemerintah untuk melindungi batik kerisnya. Hal ini dimafaatkan oleh pengusaha cina untuk mengembangkan usaha batiknya. Akan tetapi pada tahun 1970-1980 berubah konsep dari ali baba ke baba ali, yaitu pengusaha cina memanfaatkan kebijakan yang dilakukan pemerintah dan bisa mengusai sektor – sektor industri batik.

Dampak lain yang ditimbulkan karena merosotnya industri batik antara lain:

1. Dalam Bidang Sosial
Dalam Bidang Sosial pada pembahasan perkembangan industri batik Tirtomoyo pada
tahun 1960-1965, desa Tirtomoyo telah membentuk masyarakat yang menghargai nilai-nilai ekonomis dan keagamaan, keberhasilan ekonomis dan keagamaan merupakan dua prasarat penting yang dibutuhkan untuk mendapatkan status sosial, sehingga adanya kebijakan Pemerintah yang melindungi terhadap keberadaan industri mereka memberikan dorongan kemajuan terhadap industri utama mereka, yaitu tekstil dan batik. Dengan ungkapan lain, perkembangan pusat ekonomi masyarakat Tirtomoyo telah memperoleh dukungan baik secara politik maupun budaya.

Perkembangan pesat yang telah diraih pada masa sebelumnya ternyata harus mengalami kemerosotan. Kemerosotan ini telah pula menjauhkan harapan-harapan masyarakat Tirtomoyo dalam kesadaran mereka yang sangat menghargai nilai-nilai kewirausahaan. Suatu gejala umum yang dapat dilihat pada masyarakat Tirtomoyo adalah timbulnya keputusasaan sebagai akibat dari zaman keemasan atau kejayaan yang pernah mereka rasakan telah berlalu. Di sisi lain etos kewiraswastaan yang semestinya diregenerasikan pada penerusnya kurang mendapat respon yang berarti. Kenyataan ini didasarkan bahwa semakin banyaknya anak-anak yang mengenyam pendidikan, dikemudian hari mereka lebih memilih bidang-bidang pekerjaan kantoran atau bekerja di luar kota. Dunia usaha batik sebagai asal mereka dibesarkan
telah mulai ditinggalkan bersamaan dengan merosotnya penilaian generasi muda terhadap bidang usaha pendahulunya, dengan ungkapan lain gejala ini juga menunjukkan merosotnya entrepreneurship di kalangan generasi muda Tirtomoyo di masa yang akan datang.

2. Dalam Bidang Ekonomi

a. Terancamnya industri batik tradisional oleh batik modern
Terjadinya perubahan selera konsumen dan didorong lebih lanjut oleh produk batik
printing yang didukung alat teknologi modern telah menyebabkan terjadinya penyempitan terhadap pemasaran batik tradisional. Pergeseran pasar ini pula telah mengakibatkan pergeseran dalam kepemilikan perusahaan, dan pergeseran daerah sebagai “sumber batik”. Apabila pada tahun-tahun sebelumnya pasaran batik didominasi oleh para pengusaha batik tradisional dari daerah-daerah seperti Yogyakarta, Ponorogo, Surakarta dan Wonogiri termasuk Tirtomoyo khususnya, maka kini “kekuasaan” itu telah beralih ke Jakarta, karena bermula dari Jakarta inilah
batik printing telah mengalami perbaikan teknologi terutama sekitar tahun 1970-1980-an.

Selain kelebihan dalam hal teknologi yang dapat menyamai kualitas batik tradisional,
keadaan ini juga diuntungkan karena adanya “sistem tembak” (copy) dari desain batik tradisional sehingga dapat diperoleh hasil desain yang benar-benar serupa dengan batik yang dicopy. Dengan demikian industri batik yang juga menuntut kreatifitas para produsen untuk menciptakan motif-motif baru dalam desainnya, secara tidak langsung dirugikan oleh adanya sistem tembak ini.

b. Berkurangnya jumlah produsen batik Tirtomoyo
Salah satu petunjuk berkembangnya industri, batik telah mengalami peningkatan maupunkemerosotan dapat ditunjukkan dengan banyak sedikitnya orang yang bekerja pada sektor tersebut. Demikian pula industri batik Tirtomoyo yang telah mengalami kemerosotan pada masa sesudah Orde Baru dapat diketahui dengan semakin berkurangnya pengusaha industri tersebut. Meskipun secara eksplisit tidak disebutkan pengusaha industri yang bergerak di lapangan tertentu, namun dengan memperhatikan keterangan dari beberapa informan dapat disimpulkan bahwa pengusaha industri yang dimaksud sebagian besar adalah pengusaha batik.

c. Pergeseran-pergeseran dalam lapangan kerja lainnya
Terjadinya pergeseran-pergeseran dalam lapangan kerja, karena sektor pembatikan sudah tidak dapat lagi diharapkan prospeknya terutama di kalangan generasi berikutnya, sehingga harus beralih pada jenis mata pencaharian lain. Ironisnya banyak anak pengusaha batik yang beralih profesi menjadi birokrat atau Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan di sini anak dari pengusaha batik yang menjadi birokrat justru lebih banyak daripada yang melanjutkan menjadi pengusaha batik.

Bagi anak pengusaha yang berpendidikan tinggi, menjadi birokrat atau PNS adalah sebuah pilihan yang “lebih bergengsi” dibandingkan dengan menjadi pengusaha batik, mungkin dalam benak pikirannya mereka berpikir sudah sekolah tinggi-tinggi masa hanya bergelut dengan batik. Alhasil banyak diantara mereka yang memilih untuk menjadi birokrat. Justru yang meneruskan menjadi pengusaha batik adalah anak-anak pengusaha yang mempunyai latar belakang pendidikan yang tidak terlalu tinggi.

d. Merosotnya partisipasi sosial pengusaha batik Tirtomoyo
Dampak yang berupa kemerosotan partisipasi sosial, ditunjukkan dengan besar atau
kecilnya dana-dana sosial yang diberikan para pengusaha terhadap masyarakat. Kemerosotan partisipasi sosial tersebut juga serupa dengan merosotnya perkembangan dana-dana sosial yang diperbantukan pada masyarakat. Keadaan tersebut cukup beralasan karena kaitan antara keduanya terdapat hubungan yang sangat menopang, tetapi dalam hal ini perlu kiranya menjadi perhatian sebagaimana keterangan informan, bahwa di masa lalu jiwa sosial pengusahapengusaha batik di Tirtomoyo cukup bagus. 16
Kejayaan Tirtomoyo sebagai pusat kegiatan bisnis batik karena banyak saudagar yang
kaya raya didalamnya, kini hanyalah tinggal beberapa orang saja.

Saat ini Tirtomoyo tidak ubahnya seperti kampung-kampung lainnya. Keadaan di Tirtomoyo tidak seperti dulu lagi, karena para saudagar batik kini tinggal keturunannya dan sudah tak banyak lagi yang menekuni batik tulis. Kelangkaan adanya batik tulis memang sudah terjadi cukup lama. Lebih-lebih ketika krisis moneter hingga pasca kerusuhan Mei 1998, perdagangan batik tulis mengalami keterpurukan yang sangat tajam karena harganya yang cukup mahal, pengerjaan batik tulis memerlukan proses yang cukup panjang dan rumit. Di samping itu biaya produksi mengalami kenaikan cukup tinggi, yang diikuti pula oleh kenaikan harga, sehingga jumlah pembeli semakin
mengalami penurunan.

Resiko untuk produksi batik tulis memang sangat tinggi. Cacat sedikit pembeli langsung menjatuhkan harga, disamping prosesnya yang begitu lama dalam pembuatan,
sehingga untuk iklim perdagangan yang membutuhkan perputaran uang cepat, sulit untuk mengikuti.


KESIMPULAN

Daerah Tirtomoyo dikenal sebagai salah satu sentra industri batik mulai tahun 1960 di
Wonogiri. Kegiatan pembatikan pada mulanya masih mempergunakan peralatan yang sederhana, yaitu canting. Ragam hias batik yang dihasilkan pun masih meniru ragam hias dari kraton, demikian pula dengan pewarnaannya yang cenderung gelap dan mempergunakan bahan pewarna dari alam. Industri batik tradisional di Tirtomoyo yang semakin maju, membuat para pengusaha berpikir untuk menciptakan peralatan membatik yang dapat menghasilkan batik lebih cepat daripada dengan menggunakan canting.

Dari masa ke masa dunia perbatikan banyak mulai mengalami perubahan. Mulai dari
ragam hias batiknya hingga peralatan dalam pembatikannya. Demikian pula dengan batik di Tirtomoyo. Ragam hias batik Tirtomoyo yang mulanya berupa ragam hias klasik lambat laun berkembang ke ragam hias yang dinamis atau bergaya kontemporer. Pewarnaannya pun mulai menggunakan warna yang beraneka ragam. Pesatnya perkembangan industri batik tradisional di Tirtomoyo tercipta dari kondisi masyarakat Tirtomoyo sendiri. Mereka memiliki etos kerja dan semangat dagang yang sangat tinggi dibandingkan masyarakat Wonogiri pada umumnya.

Semangat kerja mereka, pada awalnya dilatarbelakangi akan adanya persaingan dengan pembatik dari kraton. Di samping itu, iklim usaha dan dukungan dari pemerintah turut pula berperan dalam berkembangnya industri batik tradisional.
Kejayaan industri batik tradisional di Tirtomoyo dari waktu ke waktu semakin memudar.
Pergantian pemerintahan yang mengakibatkan berubah pula kebijakan usaha yang telah
dijalankan, berperan besar dalam mematikan industri batik tradisional. Selain itu kemunculan alat printing membuat para pengusaha berpindah memproduksi batik dengan alat ini dibanding mempergunakan canting atau cap. Batik printing sendiri sebenarnya tidak bisa disebut dengan batik, istilah batik digunakan untuk kepentingan bisnis saja supaya dapat menarik konsumen. Di samping itu penyebab kemunduran industri batik tradisional disebabkan oleh lemahnya dalam
permodalan, merosotnya peran koperasi, sulitnya bahan baku dan tenaga kerja.

Kemunduran industri batik tradisional di Tirtomoyo tentu memberikan dampak bagi kehidupan masyarakatnya, baik di bidang sosial maupun ekonomi. Kerajinan batik sebagai hasil dari kerajinan tradisional masyarakat, diharapkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat tetap
hidup dan berakar kuat pada generasi yang akan datang. Untuk itu diperlukan upaya untuk melestarikan hasil warisan kebudayaan nenek moyang kita.


DAFTAR PUSTAKA

1. Buku
Anesia Aryunda Dofa. 1996. Batik Indonesia. Jakarta: PT. Golden Teranyon.
Djoko Dwiyanto & DS Nugrahani. 2000. Perubahan Konsep Gender Dalam Seni Batik
Tradisional Pedalaman dan Pesisiran. Yogyakarta: Pusat Studi Wanita UGM.
Koentjaraningrat. 1960. Masyarakat desa di Indonesia Masa Ini. Jakarta: Universitas Indonesia.
Nian S. Djoemena. 1986. Ungkapan Sehelai Batik. Jakarta: Djambatan.
Riyanto, dkk. 1997. Katalog Batik Indonesia. Yogyakarta: Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik.
Slamet Mulyana. 1960. Nasionalisme sebagai Modal Perjuangan Bangsa Indonesia. Jilid 1. Jakarta Pustaka.
Soetopo, S. 1956. Batik. Jakarta: Balai Pustaka
2. Artikel dan Surat Kabar
Ahmad Istiqom, ‘Batik, Busana Adi dari Zaman Kraton’. Warta Ekonomi, No. 41, 1993.
“Batik Wonogiren Bertahan pada Corak Eksklusif”. Suara Merdeka, Sabtu 12 April 2003.
Simandjuntak, Edward. S., ‘Batik Tradisional Makin Terpojok, Labelisasi untuk apa?’ Prisma. No. 72. 1982.


DAFTAR INFORMAN


1
Tarmi
50 tahun
Pengusaha Batik
Desa Wiroko, Kecamatan Tirtomoyo, Kab. Wonogiri.
2
Kaharudin Ahmad
60 tahun
Pengusaha Batik


Bagikan Artikel SEJARAH PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK TRADISIONAL DI TIRTOMOYO TAHUN 1950-2000 (II)


Komentar Untuk SEJARAH PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK TRADISIONAL DI TIRTOMOYO TAHUN 1950-2000 (II)