PERTUMBUHAN PENGUSAHA BATIK LAWEYAN SURAKARTA : Suatu Studi Sejarah Sosial Ekonomi (II)

PERTUMBUHAN PENGUSAHA BATIK LAWEYAN SURAKARTA : Suatu Studi Sejarah Sosial Ekonomi (II)

PERTUMBUHAN PENGUSAHA BATIK LAWEYAN SURAKARTA : Suatu Studi Sejarah Sosial Ekonomi (II) 
Baidi

 

PEMBAHASAN

Panjang-punjung, Pasir Wukir Gemah-ripah, Loh Jinawi . Kata-kata tersebut adalah landasan berpijaknya keluarga Wirjosemito yang lebih lengkap diperoleh dari salah seorang cucunya, cukup besar manfaatnya untuk menelaah pandangan hidup saudagar lainnya yang sejaman dengan tokoh yang ditampilkan ini. Tidak berlebih-lebihan jika sekiranya penampilan gaya hidup tokoh ini diamati sebagai bagian dari versi saudagar yang lain, untuk bahan dari bab kesimpulan ini.

Penulis mencoba menyajikan suatu kajian sejarah prosesual yang lebih menekankan pada pendekatan ethnografi pertumbuhan pengusaha batik Laweyan. Pandangan kami tentang keluarga saudagar-saudagar itu sebagian pendatang asing dari daerah pesisiran, ternyata keliru. Sebagaimana orang lain, mencoba memasuki kampung saudagar yang menemukan karakteristiknya sejak awal abad ini, merasa menemukan lingkungan yang terasa asing. Tetapi sejak pengalaman lapangan kami, diperkenalkan dengan masyarakatnya, gaya hidup sebagaimana pencerminan dari persepsi kultural mereka dan orientasi pekerjaanya, kekeliruan kami itu sekarang terjawab.

Penduduk Laweyan sebenarnya bukan orang Jawa yang asing dengan masyarakat lingkungannya karena perbedaan kultur, melainkan terasing karena identitas lapangan pekerjaan berbeda dengan kondisi umum komunitas yang lebih luas di sekitarnya. Dari hasil pengamatan, sebagian besar pengusaha yang tampil sebagai saudagar kaya selama seperempat pertama abad ini, cukup bangga dengan identitas nama ke-Jawaannya (Rosjidi, 1967). Demikian pula saudagar santri yang sudah menunaikan ibadah haji, tidak pernah ada yang meninggalkan identitas nama Jawanya. Kebanggaan atas penampilan dari sebagian orang Jawa yang sukses dibidang ekonomi dan status sosial mereka, agaknya merupakan pencerminan dari falsafah hidup orang jawa: drajat, semat dan pangkat (status, kekayaan dan kedudukan).

Dalam komunitas pengusaha kain batik di Laweyan menunjukkan suatu ciri sosial yang membentuk sistem stratifikasi antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil, antara buruh dengan majikan, dan antara buruh tetap dengan buruh harian. Struktur kekuasaan majikan berjalan paralel dengan struktur fungsionalnya sebagai ibu rumah tangga. Demikian sebaliknya, tenaga buruh sebagai bawahan di perusahaan sekaligus akan berfungsi sebagai pembantu rumah tangga majikan. Puncak struktur sosial dalam masyarakat Laweyan disebut keluarga majikan, secara turun temurun terdiri dari mbok mase sepuh (nenek), mas nganten sepuh (kakek), biasanya mereka orang tua dari pihak ibu. Selanjutnya adalah mbok mase (ibu rumah tangga), mas nganten (ayah sebagai kepala rumah tangga), mas rara (anak perem-puan) dan mas nganten (anak laki-laki) atau sering dipanggil gus.


Status sosial di bawahnya yaitu kelompok besar para pekerja di perusahaan. Status sosial mereka ditentukan menurut kriteria keahlian kerja. Dalam kelompok pekerja, tukang cap menduduki tingkat teratas sebagai buruh ahli, mereka mendapatkan perlakuan istimewa dari majikan dibanding kelompok pekerja lainnya. Kelompok tukang cap seringkali terjadi mobilitas vertikal yaitu naiknya status sosial dari pekerja perusahaan menjadi pengusaha menengah atau besar. Sedangkan kelompok pekerja dengan status sosial di bawahnya adalah kuli mbabar, kuli celep, pengubang (buruh batik) dan pembantu rumah tangga majikan. Status mereka tergolong dalam kategori
buruh inti. Kelompok di bawahnya adalah kuli mberet, kuli kerok dan kuli kemplong, mereka ini tergolong sebagai buruh tetap. Kemudian status sosial paling bawah adalah buruh harian yaitu pekerja kasar sebagai pembantu rumah tangga. Mereka tidak diikat oleh majikan, karena itu sewaktu-waktu dapat diberhentikan oleh majikan. Meskipun demikian hubungan antara majikan dan buruh bukan saja berdasarkan kepentingan ekonomi, melainkan lebih dari itu dengan meminjam istilah setempat sambung rasa-sambung warga artinya terjalinnya ikatan persaudaraan antara buruh dan majikan.

Para saudagar Laweyan telah memperoleh apa yang dicita-citakan orang Jawa yaitu drajat. Walaupun kedudukan saudagar di tengah masyarakat Jawa, masih terasa asing terutama di dalam lapangan pekerjaannya, tetapi arti kekayaan yang disandang dari kata saudagar itu sendiri, rupanya telah mengangkat status sosialnya sejajar dengan status priyayi bangsawan atau pegawai negeri. Hal ini sangat berbeda kasus di Kota Gede, di mana status sosial kebangsawanan dapat diperoleh dengan dibeli (Mitsuo Nakamura, 1983). Menurut mereka, hanya dengan kerja keras, hemat dan disiplin tinggi kedudukan dan kekayaan itu akan diperoleh tanpa harus mengorbankan harga diri di bawah perintah orang lain.


Seperti yang sudah dijelaskan dalam bab-bab yang terdahulu, maka tiga aspek yang menjadi pokok permasalahan, sosial, ekonomi dan kultural adalah variable-variabel ketergantungan yang saling terkait untuk memperjelas munculnya kelompok pengusaha itu ditengah-tengah masyarakat Solo. Variabel ekonomi sangat berguna untuk mengetahui sejauh mana pertumbuhan ekonomi perusahaan milik tiap-tiap pengusaha. Sehingga memberi kemudahan untuk menganalisa kondisi keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dengan naiknya kekayaan mereka. Dengan begitu maka nilai kekayaan pengusaha yang diperoleh dari lapangan pekerjaannya biasa diklasifikasikan menurut kriteria jenis dan fungsinya. Demikian pula, variabel ekonomi sangat berguna untuk mengukur tinggi rendahnya nilai kekayaan para saudagar dengan memperbandingkan kekayaan masyarakat lain, di luar lapangan usaha ini. Misalnya dengan kekayaan para priyayi bangsawan istana. Dengan memperbandingkan nilai kekayaan ini, akan diperoleh gambaran sejauh mana adanya keterkaitan status sosial mereka. Seperti yang telah ditunjukkan di depan, ternyata terdapat korelasi yang positif antara pertumbuhan ekonomi dengan naiknya status sosial orang Laweyan. Gelar yang
mereka peroleh dari lingkungan Laweyan sendiri mbok mase dengan dari luar juragan, tidak menutup kemungkinan untuk mereka mensejajarkan diri status sosial mereka dengan priyayi istana. Dengan melihat perkembangan ini, maka bisa dipastikan bahwa keterkaitan antara aspek sosial dan ekonomi adalah variabel-variabel yang saling tergantung satu sama yang lain.

Demikian pula untuk melihat kekayaan para pengusaha Laweyan sebagai simbol-simbol status, maka masalah persepsi kultural bisa dipakai sebagai variabel ketiga. Permasalahan yang cukup menarik dari aspek ini adalah, orang-orang Laweyan begitu memandang penting memamerkan kekayaan mereka, menolak sistem pendidikan formal, kegiatan sosial dan ada kecenderungan mengantisipasi gaya hidup para priyayi istana. Jawaban-nya adalah nilai harga diri.yang cukup tinggi dari peranan wanita-wanita (mbok mase) Laweyan. Sudah menjadi kondisi umum di Laweyan, bahwa status kekuasaan wanita secara struktural fungsional baik di perusahaan maupun dalam keluarga berbeda di atas peranan laki-laki. Oleh karena itu faktor poligami, hidup berfoya-foya dan gila hormat yang menonjol sebagai gaya hidup priyayi istana, senantiasa diantisipasi oleh wanita-wanita Laweyan.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian sebagai berikut: Pertama, sesungguhnya apa yang terjadi didalam pertumbuhan ekonomi pengusaha batik di Laweyan pada awal abad 20, adalah keunikan dalam sejarah daerah itu. Mereka tidak dapat disamakan dengan konsep Geertz, Castles dan Burger. Agama Islam tidak dapat berkembang secara baik di sana ketika pertumbuhan ekonomi Laweyan mengalami pasang naik. Bahkan para pedagang Cina di Solo sebelum bangkit Serikat Islam memandang perlu menjalin hubungan dengan saudagar-saudagar Laweyan.

Kedua, dengan mempertimbangkan begitu besar peranan pengusaha Laweyan dalam menumbuhkan sektor ekonomi kota maka kehadiran mereka dalam masyarakat Solo, tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, trikhotomi Geertz, dalam melihat masyarakat Jawa atas pembagian abangan, santri dan priyayi dirasakan tidak cocok, terutama dalam masyarakat Solo. Sekiranya bila masih bisa disesuaikan dengan masyarakat di kota itu adalah, trikhotomi sosial berdasarkan struktur kelas: priyayi, pedagang/pengusaha dan wong cilik. Sementara abangan dan santri, adalah dikhotomi yang seharusnya terpisah dari pembagian di atas, karena klasifikasinya berdasarkan agama.

Ketiga, dengan mempertimbangkan perubahan arus modernisasi yang begitu cepat menguasai kota Solo, lewat berbagai media, tak pelak lagi Laweyan masih akan menghadapi masalah tentang identitasnya. Jawaban dari permasalahan itu, masih terbuka pertanyaan yang masih belum terjawab dalam studi ini.

Adapun saran yang dapat dikemukakan dari penelitian adalah sebagai berikut: Pertama, untuk mengungkap secara utuh sejarah sosial ekonomi Batik Laweyan dan berbagai implikasi dalam kehidupan masyarakat Laweyan pada masa lalu dan kini diperlukan penelitian yang lebih mendalam dan komprehensif. Kedua, sebagai salah satu sentra perusahaan batik yang melahirkan gaya hidup yang berbeda dengan masyarakat sekitarnya perlu dilakukan penelitian tentang perubahan budaya gaya hidup masyarakat
Laweyan pada masa lalu dan masa kini.


DAFTAR PUSTAKA

Angelino, P. Dekat. 1962. Batikraport II, Weltrevreden: Lansdrukkeerij.
Bogdan, Robert dan Biklen, Sari Knopp. 1982. Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. New York: Allen and Bacon Inc.
Burger, D.H. 1962. Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia (terjemah Prajudi Atmosoedjidjo), Jakarta: Pradnjaparamita.
Castle, Lance. 1982. Tingkah Laku Agama, Politik dan Ekonomi di Jawa: Industri Rokok Kudus. Jakarta: Sinar Harapan.
Geertz, C.1973. Penjaja dan Raja. Jakarta: Badan Penerbit Indonesia Raya.
Geertz, C.1981. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.
Korver, A.P.E. 1985. Serikat Islam, Gerakan Ratu Adil. Jakarta: Grafiti Press.
Nakamura, M. 1983. Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin. Yogjakarta: Gadjah Mada University Press.
Mulyono dan Sutrisno Kutojo. 1980. Haji Samanhudi. Jakarta: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya.
Mlajadipura. 1984. Sejarah Kyai Ageng Anis-Kyai Ageng Laweyan, Surakarta.
Rosjidi,H.M. 1967. Islam dan Kebatinan. Jakarta: Bulan Bintang.
Sarsono dan Suyatno. 1985. Suatu Pengamatan Tradisi Lisan dalam Kebudayaan Jawa. Yogjakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.
Tikno Pranoto. Sejarah Kutho Solo, Kraton Solo, Bengawan Solo, Gunung Lawu, Surakarta: TB Pelajar.
Van Neil, Robert. 1984. Munculnya Elit Modern Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya.
Baidi, Pertumbuhan Pengusaha Batik Laweyan Surakarta


Bagikan Artikel PERTUMBUHAN PENGUSAHA BATIK LAWEYAN SURAKARTA : Suatu Studi Sejarah Sosial Ekonomi (II)


Komentar Untuk PERTUMBUHAN PENGUSAHA BATIK LAWEYAN SURAKARTA : Suatu Studi Sejarah Sosial Ekonomi (II)