PERTUMBUHAN PENGUSAHA BATIK LAWEYAN SURAKARTA : Suatu Studi Sejarah Sosial Ekonomi (I)

PERTUMBUHAN PENGUSAHA BATIK LAWEYAN SURAKARTA : Suatu Studi Sejarah Sosial Ekonomi (I)

PERTUMBUHAN PENGUSAHA BATIK LAWEYAN SURAKARTA : Suatu Studi Sejarah Sosial Ekonomi (I)
Baidi


Laweyan merupakan sebuah kampung para saudagar sekaligus pusat perdagangan industri batik yang mulai tumbuh pada awal abad XX. Jiwa enterpreneurship yang dimiliki masyarakat Laweyan telah mengantar pada masa kejayaan ekonomi batik dalam abad tersebut (Mulyono dan Sutrisno Kutoyo,1980). Kesuksesan dalam bidang ekonomi ternyata memberikan dampak terhadap predikat yang disandang. Oleh karena itu kampung Laweyan identik dengan kampung para saudagar batik. Akibatnya, corak
kehidupan serta orientasi nilai masyarakat Laweyan berbeda dengan masyarakat Surakarta pada umumnya (Sarsono dan Suyatno, 1985).

Sesuai dengan perjalanan waktu, maka para pengusaha batik Laweyan ikut berproses dari pertumbuhannya pada awal abad XX sampai masa kemerdekaan Indonesia, bahkan sampai sekarang. Sebagai kampung yang memiliki karakteristik berbeda dengan kampung lain di sekitarnya, tentu saja memiliki proses perkembangan yang berbeda dengan kampung lain di sekitarnya (Mitsuo Nakamura, 1983). Kampung Laweyan tumbuh di tengahtengah masyarakat birokrat kerajaan dan rakyat biasa. Secara sosiologis dapat dikatakan bahwa masyarakat Laweyan sebagai inclave society.

Keberadaan masyarakat tersebut sangat berbeda dengan komunitas yang
lebih besar di sekitarnya, sehingga keberadaan dan interaksi sosial demikian tertutup (Geertz, 1973). Karena untuk mempertahankan komunitasnya, lebih banyak tergantung pada masyarakat Laweyan itu sendiri. Profesi kerja para pengusaha batik Laweyan jelas menunjukkan bidang pekerjaan yang berbeda dengan lapangan pekerjaan masyarakat Surakarta pada umumnya. Bentuk mata pencaharian yang mereka miliki berada di luar
kebiasaan masyarakat feodal, yang pada umumnya bekerja dalam lapangan pertanian atau pegawai birokrat kerajaan. Oleh karena itu, kampung Laweyan terasa sebagai pemukiman yang asing dengam lingkungan sosial di sekitarnya. Masalah yang muncul dari kata asing tersebut ternyata merupakan sesuatu yang menarik untuk dikaji, terutama dari aspek sosial, ekonomi dan kebudayaan.

Dalam mayarakat feodal, telah berlaku suatu asumsi bahwa kedudukan dan kekuasaan serta hak seseorang banyak ditentukan oleh besar kecilnya kekayaan yang mereka miliki. Semakin besar kekayaan yang mereka miliki, maka semakin besar kedudukan dan kekuasaannya (Tikno Pranoto, t.th). Bahkan dengan kekayaan yang dimiliki, para saudagar memiliki pengaruh di tengah masyarakat seperti halnya para bangsawan kerajaan (Korver, 1985).

Demikian pula sebaliknya, semakin kecil kekayaan yang mereka miliki, maka semakin kecil kedudukan dan kekuasaan yang mereka miliki. Bertambahnya kekayaan para pengusaha batik ternyata erat kaitannya dengan naiknya status sosial para pengusaha batik. Hal ini dibuktikan dengan pemberian gelar mbok mase , yaitu gelar untuk para majikan (pengusaha besar) batik di Laweyan. Sebagai suatu konstelasi sosial, tentu
saja pemilikan gelar tersebut memiliki implikasi wibawa terhadap hak-hak
yang mereka miliki dalam masyarakar tradisional (Van Neil,1984).

Demikian pula pertambahan kekayaan para pengusaha batik tersebut dimungkinkan lahirnya orientasi nilai kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat di sekitarnya. Oleh Karena itu, corak kehidupan masyarakat kaya di kampung Laweyan perlu diteliti, maka simbul kekayaan terhadap pengaruh status sosial, orientasi nilai kebudayaan yang lepas dari ikatan tradisi masyarakat feodal.

Sehubungan dengan penjelasan tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti pertumbuahan pengusaha batik di Laweyan pada awal abad XX, terutama ditekankan pada aspek sejarah sosial ekonomi lokal di Laweyan. Pertumbuhan masyarakat batik di Laweyan kiranya dapat dikategorikan sebagai kelompok menengah Jawa yang sedang menemukan bentuk dirinya sebagai reformis, terutama dalam bidang etos kerja dan bentuk pekerjaan. Di samping itu, bagaimana proses pertumbuhan masyarakat pengusaha batik di Laweyan, dapatkah dijelaskan dalam kerangka tesis Geertz (1981) yang menyatakan ada hubungan historis dan fungsional antara Islam dengan pertumbuhan perdagangan di Jawa khususnya. Demikian pula tesis yang dikemukakan oleh Castle (1982), bahwa pertumbuhan kelas menengah hanya dapat terjadi dalam masyarakat sistim tunggal. Artinya, kelas menengah tidak dapat tumbuh dalam masyarakat yang menganut sistim dua kelas, yaitu kelas penguasa dan rakyat.

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa penelitian ini diarahkan pada beberapa pokok permasalahan. Pertama, munculnya pengusaha batik di Laweyan pada abad XX justru di tengah-tengah masyarakat feodal di Surakarta. Permasalahannya adalah apakah ada hubungan antara pertambahan kekayaan para pengusaha batik dengan naiknya status sosial dan kekuasaan mereka? Kedua, kondisi umum yang diperlihatkan oleh para pengusaha batik Laweyan adalah nilai kekayaannya, sehingga muncul gelar mbok mase pada kalangan mereka. Permasalahannya adalah sejauh mana nilai status mbok mase bisa diukur menurut kriteria sistem pemberian gelar dalam lingkungan keraton kepada para abdi dalem kriya? Ketiga, peningkatan kekayaan yang dilakukan secara besar-besaran dari para pengusaha batik Laweyan, memberikan indikasi bahwa kekayaan merupakan simbol status. Permasalahan yang menarik adalah apa yang menjadi standar kekayaan bagi para saudagar tersebut ? Bagaimana pengaruh kekayaan
terhadap gaya hidup mereka? Apakah keterkaitan antara etos kerja dengan pandangan kepercayaan mereka


METODE

Penelitian ini dimaksudkan membahas membahas pokok permasalahannya bukan secara sosiologis ekonomis murni, melainkan akan dijelaskan dengan menggunakan pendekatan sejarah yang diamati secara prosesual. Selanjutnya agar dapat memberikan gambaran yang memadai, pendekatan etnografis sangat membantu kegiatan penelitian yang berkaitan dengan penyusunan data dari sumber lisan. Informasi lisan diperoleh dari informan kunci atau criterion on based selection (Bogdan and Biklen, 1982) antara lain; bekas pengusaha, pengusaha, anak pengusaha dengan cara wawancara dan pengamatan langsung.

Di samping itu, dilakukan analisis dokumen yang berkaitan dengan masalah penelitian meliputi; foto-foto keluarga saudagar batik, arsip pembukuan perusahaan batik dan akte pendirian Persatoean Peroesahaan Batik Boemipoetra Soerakarta (PPBS) serta monograf yang berisi keadaan umum dan keadaan khusus perusahaan batik Laweyan pada masa itu (Angelino, 1920).


HASIL PENELITIAN

Kampung Laweyan memiliki beberapa keistimewaan, terutama karena hadirnya kelompok pengusaha batik Jawa, yang mana identitas masyarakatnya memiliki gaya hidup yang berlainan dengan masyarakat Surakarta. Ciri ciri sosial yang berlainan nampak pada kedudukan lapangan pekerjaan yang kelihatan terasing di dalam masyarakat Surakarta, dan pemisahan yang tajam antara ikatan kerja yang bersifat ekonomis dan yang bersifat non ekonomis. Mereka menyatu dalam sistem sosialnya sendiri, yang didasarkan atas orientasi kerja wiraswasta. Oleh sebab ini, kampung Laweyan lebih menampakkan diri ke dalam ciri ciri kampung dagang (Mlajadipura, 1984).

Gambaran yang muncul dari ciri ciri kampung Laweyan ini, mengingatkan pada pengamatan Geertz (1973), terhadap ciri ciri kelompok pedagang di Mojokuto. Studi Geertz menunjukkan bahwa ciri ciri kelompok pedagang di Mojokuto, dalam beberapa hal mempunyai persamaan dengan identitas masyarakat pengusaha Laweyan. Sebagai golongan yang menunjukkan adanya perbedaan di dalam gaya hidup dari masyarakatnya, maka penduduk Laweyan, adalah minoritas yang jelas batas batas pemisahnya. Antar lain, pembatasan pada istilah Jawa wong dagang, yang diartikan sebagai kelompok asing. Geertz, menyamakan dengan istilah pengembara atau petualang. Tetapi, pengertian yang lebih cocok untuk identitas kam-pung
dagang Laweyan itu adalah nilai nilai sosial dan kebudayaannya yang menyimpang dari nilai nilai umum yang dianut oleh golongan priyayi dan petani. Dijelaskan nanti, bagaimana penduduk saudagar itu menetap di Laweyan, membentuk perkampungan sendiri, mengikuti gaya hidupnya sendiri dan menjalankan praktek kerja secara khusus sebagai entrepreneur.

Selanjutnya, gagasan Geertz (1981) mengenai etos kerja pedagang Jawa, ditunjukkan adanya ikatan yang kuat antara unsur kerja duniawi dan rohani. Dalam hubungan ini, ia menafsirkan adanya keseimbangan antara mengejar kepentingan duniawi adalah suatu kebajikan di dalam ajaran Islam (Rosjidi, 1967). Penafsiran ini justru banyak dijalankan oleh orang orang Islam reformis di kalangan Pedagang Islam terutama di kota-kota pantai Utara Jawa. Oleh karena itu, konsepsi Geertz, membenarkan adanya hubungan historis dan fungsional antara Islam dan perdagangan. Apabila pengamatan Geertz itu benar, maka bila dikaitkan dengan sejarah awal munculnya pengusaha batik di Laweyan, terdapat perbedaan segi segi pokok yang tidak dicakup oleh gagasan Geertz. Sejauh mengenai pengusaha Laweyan pada awal ab ad ini, mereka adalah saudagar Islam Abangan. Penduduk Laweyan dari generasi sebelum kemerdekaan, menyebutkan masyarakat setempat sebagai Islam Garingan.

Selain Geertz, dijumpai pengamat lain yang memperhatikan masalah pertumbuhan kelas Menengah Jawa, terutama dalam kaitannya dengan struktur feodal masyarakat Jawa. Studi Lance Castles (1982), dalam kasus industri Rokok Kudus 1967, mengkaji bahwa kelas sosial yang berdasarkan perdagangan dan industri, adalah sesuatu yang bertentangan dengan struktur sosial resmi dalam masyarakat Jawa. Paradok ini digambarkan oleh Castles sebagai kondisi umum, yaitu suatu pelukisan masyarakat Jawa yang hanya mengenal sistem dua kelas (penguasa dan rakyat), tidak mudah menerima kehadiran Kelas Menengah Jawa, sehingga kelas menengah tidak pernah
muncul di tengah-tengah masyarakat.

Apabila tesis Castle itu diterapkan di Laweyan, maka munculnya kampung dagang itu di awal abad ini bisa dikatakan sebagai faktor perkecualian dari konsep Castles. Dengan kata lain, sejauh menyangkut pertumbuhan kelompok Laweyan pada awal abad ini, maka terdapat permasalahan khusus yang tidak dicakup oleh gagasan Castles, terutama permasalahan yang berkaitan dengan munculnya kelompok pengusaha Laweyan di tengah-tengah struktur masyarakat feodal Surakarta. Sesungguh-nya terjadi perimbangan antara naiknya kekayaan para saudagar disertai memudarnya wibawa kekuasaan tradisional.

Pendapat lain yang perlu mendapat perhatian adalah pendapat yang sama antara Geertz dan D.H. Burger. Geertz dalam kontek lain, mengamati kemunduran para pedagang Jawa, karena tidak adanya tradisi membentuk persekutuan dagang, semacam gilda-gilda di Italia Utara pada abad XI. Burger (1962), selanjutnya melihat adanya kecenderungan faktor sejarah yang membentuk lemahnya sistem dari perdagangan pribumi, akibat dari penempatan peranan pedagang Cina sebagai perantara antara kepentingan ekonomi pribumi dan Belanda. Akibatnya seluruh perdagangan dan industri pribumi Jawa menjadi lumpuh, atau paling baik sampai pada taraf penjaja kecil
eceran dan pengrajin yang tidak tetap produksinya.

Tesis Geertz dan Burger, kelihatannya terlalu berat menggantungkan pada pengalaman sejarah perdagangan di kota-kota pantai Utara Jawa. Sementara, hubungan perdagangan di pedalaman Jawa Tengah Selatan terutama periode pertumbuhan pengusaha Laweyan, nampak memberikan pola yang berbeda. Sejauh menyangkut perkembangan pedagang dan pengusaha batik Laweyan pada abad ini, baik dari segi kekayaan, kepandaian usaha dan jaringan perdagangannya, tidak kalah dengan peranan pedagang asing lainnya. Para pengusaha Jawa di Laweyan ini, sebenarnya pada tahun1936, pernah memperkuat kedudukannya sebagai Kelas Me-nengah Jawa, dalam satu wadah persekutuan dagang Persatoean Peroe-sahaan Batik Boemipoetra Soerakarta. Organisasi dagang ini sebenarnya cukup kuat untuk menyaingi para pedagang asing, terutama dalam menguasai pasaran dan produksi batik di dalam negeri (Wawancara dengan Bapak Na im salah seorang Pengurus Koperasi Batik Surakarta, 12 Juni 2000). Akhirnya, gambaran yang muncul dari hasil kajian beberapa studi di atas, disimpulkan:

Pertama, sesungguhnya apa yang terjadi di dalam pertumb uhan ekonomi pengusaha batik di Laweyan pada awal abad ini, adalah merupakan keunikan sejarah daerah itu. Kasus di Laweyan tidak bisa disamakan dengan pendapat dari ketiga sarjana di atas. Etos kerja pengusaha Laweyan, tumbuh di dalam kondisi persaingan untuk memperoleh status yang sama dengan para abdi dalem pembatik dalam dinas kerajaan. Bahkan sejalan dengan naiknya kekayaan orang-orang Laweyan, kekayaan orangorang birokrat, khususnya di Laweyan sudah mulai melemah.

Kedua, dengan pertimbangan besarnya peranan pengusaha Laweyan dalam menumbuhkan sistem produksi dan perdagangan batik di daerah, maka peranan mereka dalam masyarakat kelas menengah di Solo, tidak bisa diabaikan. Oleh sebab itu trikotomi Geertz (1981), dalam melihat masyarakat Jawa atas pembagian: abangan, santri dan priyayi, ternyata tidak cocok, terutama untuk masyarakat Solo. Gagasan itu masih bisa dipertimbangkan untuk disesuaikan dengan lingkungan masyarakat Solo pada awal abad ini, yaitu dengan pembagian trikotomi sosial berdasarkan struktur kelas: Priyayi, pedagang atau pengusaha dan wong cilik. Sementara yang lain, abangan dan santri adalah merupakan dikotomi berdasarkan agama, yang oleh Soejatno Kartodirdjo telah dibantah dengan mengungkapkan argumentasi bahwa dalam Islam tidak mengenal pemilahan seperti Geertz itu (Wawancara tanggal 20 Juni 2000). Dalam Islam hanya dikenal adanya umat Islam yang baru bersyahadat sampai pada tataran umat Islam yang konsisten menjalankan ajaran Islam. Soejatno Kartodirdjo, akibat bantahan tersebut, sampai sampai Geertz datang kepadanya dan menyatakan, kurang lebihnya, Ternyata ada juga orang Indonesia yang sangat kritis terhadap pemikiran orang asing.

 


Bagikan Artikel PERTUMBUHAN PENGUSAHA BATIK LAWEYAN SURAKARTA : Suatu Studi Sejarah Sosial Ekonomi (I)


Komentar Untuk PERTUMBUHAN PENGUSAHA BATIK LAWEYAN SURAKARTA : Suatu Studi Sejarah Sosial Ekonomi (I)