KEINDAHAN MOTIF KALIGRAFI ARAB PADA BATIK DODOT TARI BEDHAYA ANGLIR MENDUNG MANGKUNEGARAN

KEINDAHAN MOTIF KALIGRAFI ARAB PADA BATIK DODOT TARI BEDHAYA ANGLIR MENDUNG MANGKUNEGARAN

KEINDAHAN MOTIF KALIGRAFI ARAB PADA BATIK DODOT TARI BEDHAYA ANGLIR MENDUNG MANGKUNEGARAN
Pujiyanto


DODOT TARI BEDHAYA AMGLIR MENDUNG

Dodot (bahasa Jawa ngoko), atau Kampuh (bahasa Jawa krama inggil) adalah sejenis kain batik yang mempunyai ukuran besar dua kali dari kain biasa (nyamping). Kain Dodot yang dipakai para penari Bedhaya Kadipaten Mangkunegaran berbeda dengan Keraton Kasunanan Solo. Bedhaya di Keraton Kasunanan Ketawang terdiri dari 9 penari berwarna hijau hiasan motif Alas-alasan prada, sedangkan Bedhaya Kadipaten Mangkunegaran yang dikenal Anglir Mendung terdiri 7 penari memakai kain Dodot berwarna hitam dengan motif kaligrafi emas (prada) di bagian pinggir kain. Tari Bedhaya Anglir Mendung ciptaan Pangeran Samber Nyawa K.G.P.A.A. Mangkunegara I (th.1757) yang mengisahkan perlawanan dengan Belanda. Tari ini tenggelam pada masa K.G.P.A.A. Mangkunegara III (th.1835), melalui kepemimpinan K.G.P.A.A. Mangkunegara VIII (th.1970) mulai digali kembali yang akhirnya bisa ditampilkan pada jumenengan Praja Mangkunegaran dengan kemasan baru.

Tampilnya tari Bedhaya Anglir Mendung juga berkat penanganan lembut ibu K.R.Ay.T. Praptini Partaningrat lewat dodot yang dipakai oleh ke tujuh penari. Kemasan baru yang dipadu dengan dodot baru pula, sehingga muncul motif kaligrafi Arab bertuliskan “Allah” dan “Muhammad” yang sebelumnya belum dijumpai di lingkungan Kadipaten (Pujiyanto, 1997:292).

Batik Dodot Bedhaya Anglir Mendung merupakan karya batik sakral yang dipakai setahun sekali diwaktu jumenengan atau ulang tahun kenaikan tahta Praja Mangkunegaran yang bersamaan pemberian tali asih kepangkatan Kadipaten (Keraton) kepada abdi dalem dan masyarakat yang berperan serta dalam mengabdi kepada Kadipaten. Dalam segi pemakaiannya hanya diperuntukkan kepada ke tujuh penari Bedhaya Anglir Mendung yang dilakukan oleh remaja putrid yang belum menikah dan tidak mentruasi.

KEINDAHAN BATIK

Menurut Sewan Susanto (1973:3) dijelaskan, bahwa keindahan motif terletak dari dua hal, yaitu: 1) Keindahan visual (keindahan luar), yaitu rasa indah yang diperoleh kerena perpaduan yang harmonis dari susunan bentuk dan warna melalui penglihatan atau panca indra, 2) Keindahan spiritual (keindahan dalam), yaitu rasa indah yang diperoleh karena susunan arti lambing dari bentuk dan warna yang sesuai dengan paham yang dimengerti.

Menurut Wiyoso Yudoseputro (1984:89,165), bahwa keindahan secara visual, yaitu bila orang memandang atau menikmati karya seni rupa yang terdiri garis, bentuk, tekstur, dan warna yang tampil secara utuh yang memberikan kesan dan pesan tertentu kepada yang mendengarkannya. Adapun keindahan spiritual berakar pada pandangan manusia terhadap sesuatu yang goib yang ingin dipuja, segala sesuatu yang serba rahasia yang dapat kita kenal pada segala bentuk kepercayaan dan agama suatu falsafah hidup.

Dari dua pendapat tersebut, bahwa keindahan pada batik adalah; 1) keindahan yang ditimbulkan oleh kesan yang ditampilkan secara utuh melalui pandangan terhadap perpaduan garis, bentuk, tekstur, dan warna pada Pujiyanto, Keindahan Motif Kaligrafi Arab 27 batik, 2) Keindahan batik yang berhubungan dengan pemahaman kepercayaan yang dihubungkan dengan falsafah hidup. Dalam hal ini ada hubungan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa yang diekspresikan melalui karya batik.

Dua keindahan tersebut sangatlah melekat pada motif Kaligrafi Arab yang terlihat pada busana (nyamping) ke tujuh penari Bedhaya Anglir Mendung Kadipaten Magkunegaran Solo. Motif Kaligrafi Arab diterapkan pada batik Kadipaten Magkunegaran Solo semenjak K.G.P.A.A. Mangkunegaran VIII memunculkannya kembali tari Bedhaya untuk penyambutan Jumenengan Praja Mangkunegaran. Motif Kaligrafi ini mengambil ide dari tulisan Arab yang terdapat di akribut-akribut K.G.P.A.A. Mangkunegoro I untuk keperluan perang melawan Belanda.

Keindahan Visual Warna

Warna batik Dodot Bedhaya Angglir Mendung Kadipaten Mangkunegaran terdiri dari tiga warna, yaitu warna putih, kuning emas (prada), dan hitam. Warna putih ditampilkan di tengah-tengah kain yang disebut blumbangan, warna kuning emas ditampilkan pada seluruh motif, yaitu motif kaligrafi yang didukung dengan motif tapak dara dan motif zigzag, sedangkan warna hitam sebagai dasar motif.

Warna blumbangan berbentuk belah ketupat yang dipadu dengan garis zig-zag seperti ombak bergelombang merupakan garis pembatas untuk menghubungkan warna hitam sebagai dasar kain yang mempunyai kesan menyatu. Munculnya garis zig-zag lengkung memberi kesan lembut mencerminkan suatu kehalusan atau keluwesan bila kain saat dipakai.

Di sisi pinggir kain disengajakan benang lusi terurai yang memberi kesan adanya kehidupan, atau kesan ramah yang selalu menyapa. Di bagian pinggir kain yang mengarah ke pakan bergambar/motif tapak dara, ombak, manusia yang didadanya terdapat huruf kaligrafi yang berbunyi Allah dan Muhammad berwarna kuning emas. Tampilnya seluruh motif berwarna kuning emas yang menyatu memberi kesan adanya keakraban, kesatuan antara elemen motif, dan suatu kemegahan.

Tampilan motif warna kuning emas tampaknya sangat memperhatikan segi komposisi, sehingga antara bidang yang terisi motif warna kuning emas sangat seimbang dengan bidang warna putih (bledag) pada blumbangan. Bila kain ini dipakai oleh ke tujuh penari Bedhaya Anglir Mendung, motif warna kuning emas yang tampak di pinggir kain seperti tumpal yang megah bila dipakai dalam ulang tahun kenaikan tahta Praja Mangkunegaran.

Keindahan Visual Motif

Motif bertuliskan Allah yang didukung dengan ornamen manusia lengkap dengan kepala, kaki, dan tangan yang ditempatkan di sisi pinggir kain Dodot. Motif batik pradan dengan latar belakang hitam yang dipadu blumbangan pitih (bangau tulak). Motif jenis ini hanya dipakai oleh ke tujuh penari Bedhaya Anglir Mendung Kadipaten Mangkunegaran waktu
jumenengan Praja. Motif Kaligrafi Arab bertuliskan Allah dan Muhammad pada Dodot
Bedhaya Angglir Mendung Kadipaten Mangkunegaran merupakan konsep yang ditulis oleh K.G..PA.A. Mangkunegara I. Hal ini dapat dibaca pada Naskah Kaligrafi Arab di Rekso Pustaka Kadipaten Mangkunegaran, seperti
di bawah:

Malaikat Jibril lungguhe ing kulit, nafsune Amarah, palawangane pangrungu.
Malaikat Mikail lungguhe ing daging, nafsune Luamah, palawangane cangkem yaiku wujude Allah.
Malaikat Izroil lungguhe ing balung, nafsune Muthmainah, palawangane pengambung yaiku wujude Allah.
Malaikat Isrofil lungguhe ing getih, nafsune Sufiah, palawangane paningal yaiku wujude Allah

Konsep Motif huruf/kaligrafi Arab yang dibuat K.G.P.A.A. Mangkunegara I pada gambar di atas merupakan penggabungan wujud manusia lengkap ada kepala, kedua tangan, dan kedua kaki yang dipadu dengan tulisan Allah dan Muhammad. Di kepala tertulis Muhmammad, tangan dibuat sumampai dengan 3 jari yang mengarah tulisan Allah, badan yang digambarkan seperti jantung yang di dalamnya tertulis Allah dan Muhammad, di bawah jantung tertulis La illah ha illallah, dan pada telapak kaki tertulis Hamad (Muhammad). Keindahan Motif huruf/kaligrafi Arab yang luar biasa dalam menggabungkan wujud manusia dengan tulisan Allah dan Muhammad. Hal ini tampak bahwa K.G.P.A.A. Mangkunegara I merupakan pemeluk agama Islam yang kuat dan selalu mendekatkan kepada Allah dan menggagumi Nabi Muhammad. Kedekatannya ini direalisasikan dengan ucapan dzikir mengagungkan kepada Allah.

Motif huruf/kaligrafi Arab berupa ornament manusia lengkap dengan kepala, badan, kaki, dan tangan dalam aplikasinya dibatik di bagian pinggir kain Dodot seperti yang dipakai ke tujuh Bedhaya Anglir Mendung. Motif dibatik pradan (emas) dengan latar warna hitam yang dipadu dengan blumbangan, yaitu bentuk belah ketupat besar yang ditempatkan di bagian tengah kain berwarna putih (bangau tulak). Motif jenis ini hanya dipakai oleh ke tujuh penari Bedhaya Anglir Mendung Kadipaten Mangkunegaran
waktu jumenengan Praja.

Keindahan Spiritual Warna

Kain Dodot Bedhaya Anglir Mendung berwarna hitam dengan kubangan tengah warna putih. Penyatuan warna hitam dan putih merupakan Bangau Tulak (putih-hitam) yang berarti „manunggale kawula lan Gusti” atau “njumbuhake kawula lan Gustine” (Partahadiningrat,1989:24-25). Warna hitam menggambarkan dunia petang (malam), sedang warna putih mengartikan dunia terang (siang). Hitam melambangkan kelanggengan (abadi), sedangkan putih melambangkan kehidupan. Jadi hitam putih mempunyai makna sebagai darma baktinya manusia pada Tuhan Yang Maha Esa.
Disamping darma baktinya manusia kepada Tuhannya, pengertian “manunggale kawula Gusti” juga diartikan sebagai darma baktinya atau mituhunya anak kepada orang tuanya. Dicontohkan bahwa warna tolak (hitam putih), seperti pada ayam dalam tembang Kinanti, seperti:

Pitik tulak, pitik tukung,
Tetulaking jabang bayi,
Situkung menggung ning margo,
Situlak bali ning margi,
Ngedohake cacing racak,
Sarap sawan pan sumingkir.

Agar selamat si jabang bayi diharapkan menggunakan ayam tulak sebagai sesaji. Maksudnya supaya si jabang bayi bisa diselamatkan dari nara bahaya seperti menolak cacing racak yang lari menjauh dan mengusir sakit sawan. Warna kain Dodot Bedhaya Anglir Mendung disebut pula Bangau Tulak, yaitu warna hitam di bagian pinggir dan putih di bagian tengah. Bangau tulak merupakan salah satu alat untuk menolak kejelekan dan membuat umur panjang. Menurut orang Jawa, bangau (burung) yang mempunyai 32 Sejarah, Tahun Kesepuluh, Nomor 1, Februari 2004 leher panjang memberi falsafah tentang usia, yaitu dapat memperpanjang umur.

Pengertian lain, bahwa warna putih merupakan warna angkasa yang jauh di atas sana. Angkasa merupakan tempat beberapa kehidupan, yaitu tempatnya matahari memancarkan sinarnya yang dibutuhkan semua kehidupan di bumi ini. Adapun warna hitam menggambarkan keadaan di bumi sebagi warna dasar tanah, merupakan tempatnya kawula Gusti. Dalam perkataan Jawa, antara angkasa dengan bumi disebut Bopo Angkoro serta Ibu Pertiwi.

Secara keseluruhan, motif kaligrafi ditampilkan teknik pradan (tinta emas), yang menyimbulkan kemakmuran, kemuliaan, ketrentaman, dan kejayaan. Kefahaman ini merupakan suatu harapan dikala Dodot Bedhaya Anglir Mendung ditampilkan dalam acara jumenengan (ulang tahun tahta) Praja, agar para pemimpin Praja dan rakyatnya diberi kemakmuran, kemuliaan, ketrentaman, dan kejayaan.

Warna kuning prada (emas) pada motif sangat indah dipadu dengan warna hitam sebagai dasar kain, dan warna putih dibidang tengah kain. Warna putih menggambarkan dunia terang yang melambangkan kehidupan, warna kuning prada (emas) merupakan lambing kematangan, kemulyaan, dan kejujuran, adapun warna hitam adalah dunia petang sebagai lambing kelanggengan (abadi). Bahwa manusia hidup di dunia haruslah mempunyai pemikiran yang matang dan bersifat jujur sebagai bekal untuk mencapai suatu kemulyaan di dunia lain, yaitu alam baka sebagai suatu kelanggengan.

Beberapa pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa warna yang ditampilkan pada batik Dodot Bedhaya Angglir Mendung mempunyai pengertian yang dalam pada diri manusia. Warna putih-hitam merupakan cerita jalannya manusia dari Alam Purwa ke Alam Wasana, yaitu mulai dari kandungan (semenjak dibuahi) sampai kea lam baka (kembali ke asalnya).

Manusia mempunyai mempunyai dua sifat (kodrat), yaitu baik dan buruk yang diterapkan di dunia, maka diharapkan manusia dapat memilih sifat-sifat yang baik untuk dijalankannya, karena sebagai pertanggungjawaban di alam fana nanti (alam kubur). Hal ini dalam pandangan hidup orang Jawa disebut sangkan paraning dumadi dan manunggaling kawula Gusti. Dalam faham kesatuan antara Yang Maha Kuasa dengan manusia merupakan dua yang menjadi satu, disebut Loroning Anunggal.

Keindahan Spiritual Motif

Keindahan batik menurut kefahaman orang Jawa merupakan simbol dari manusia. Kefahaman orang Jawa, bahwa manusia dilahirkan oleh Yang Maha Kuasa melalui hubungan suami isteri yang dibesarkan di bumi dengan sifat-sifatnya (watak) hingga akhirnya kembali lahi ke padaNya. Watak manusia yang ditulis oleh K.G.P.A.A. Mangkunegara I, menurut R.M.Ng. Tiknopranoto (Tt:124) terdiri dari empat bagian, yaitu:

Amarah, tercipta dari sarinya Api (Matahari), mempunyai sifat mudah marah
Aluamah, tercipta dari sarinya Bumi, mempunyai sifat angkara murka.
Muthmainah, tercipta dari sarinya Angin, mempunyai sifat sabar menerima apa adanya.
Sufiah, tercipta dari sarinya Air, mempunyai sifat mudah terpengaruh

Menurut Pramono (1957:3-4), dalam manusia (rohani) mempunyai alat yang dinamakan pikir dan hati (pikiran dan Rasa), adapun pikir dan hati berada pada jiwa dan sukma, yaitu:

- Jiwa, adalah bagian kehalusan manusia yang masih bersifat rendah, terdiri
dari nafsu yang dinamakan:
Egosentros dikenal dengan nama Luamah, yang mempunyai sifat
angkara murka.
Eros dikenal dengan nama Sufiah, yang mempunyai sifat budi yang
kurang baik.
Polemos dikenal dengan nama Amarah, yang mempunyai sifat pemarah.
Religios dikenal dengan nama Mutmainah, yang mempunyai sifat jujur.

- Sukma, yaitu kehalusan manusia yang sifatnya lebih jujur dari pada jiwa,
Sukma adalah bagian rohani yang bercampur dengan dzat Tuhan (kehalusan Tuhan).

Sifat-sifat tersebut merupakan pengambilan dari agama Islam yaitu Nafs, merupakan bentuk “apa yang terdapat pada diri manusia yang menghasilkan tingkah laku”. Nafs dapat menangkap makna baik dan buruk serta dapat mendorong untuk melakukan kebaikan dan keburukan (Ngemron,1997:4).

Munculnya pendapat keempat sifat manusia tersebut menurutnya berpedoman pada Alquran dan pengaruh Sunan Kalijaga, seperti:
Nafsu Amarah, merupakan nafsu yang selalu mengajak manusia berbuat buruk (jahat). Jenis nafsu ini merupakan nafsu terendah manusia, yaitu nafsu biologis atau duniawi.
Nafsu Luamah, merupakan nafsu yang mempunyai sifat adanya dorongan untuk mau mengalah pada lubuk hatinya, atau adanya penyesalan pada diri sendiri.
Nafsu Mutmainah, merupakan derajad kehidupan manusia untuk mencapai kekuatan rohaniah yang sempurna, yaitu menyatu dengan Allah.
Nafsu Sufiah, merupakan pengembangan pada diri manusia pada tahap
peralihan, yaitu setelah manusia mengenal dirinya maka ia akan mengenal Allah.

Sebagai khalifah di bumi, manusia tidak boleh berpangku tangan begitu saja tanpa berbuat apa-apa. Sebab hal ini berkaitan erat dengan kelangsungan bumi ini. Sebaiknya perlakuan buruk akan membuat ketidakseimbangan kehidupan yang secara otomatis mempercepat proses kehancuran bumi (Purwadi:148)

Kefahaman orang Jawa merupakan pendekatan dan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yaitu hakekat hidup dalam mengendalikan diri dari sifat-sifat yang buruk untuk berbuat kebaikan. Manusia hanyalah hamba yang diadakan dan ditiadakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, yang dikatakan “sangkan paraning dumadi”, maka hidup di dunia ini hanyalah “mampir ngombe”. Mitologi Jawa ini sering dijumpai pada sekar macapat (lagu Jawa), seperti dalam tembang Durma (Suyanto,1992:52):

Kawruhana sejatining urip,
Manungsa urip ana ing donya,
Prasasat mung mampir ngombe,
Upama manuk mabur,
Oncat saking kurunganeki,
Ngendi pencokan benjang,
Ywa kongsi kaliru,
Upama wong lunga sanja,
Njan sinanjan nora wurung mesti mulih,
Mulih mula mulanya.

Artinya:
Ketahuilah perihal hidup sejati,
Manusia hidup di dunia,
Ibarat hanya singgah untuk minum,
Ibarat burung terbang,
Lepas tinggalkan kurungan,
Di mana nanti hinggap,
Janganlah keliru,
Ibarat orang bertandang,
Saling tengok akhirnya harus pulang,
Pulang ke asal mula.

“Sangkan paraning dumadi” merupakan asal mula dan tujuan akhir manusia. Menurut pandangan orang Jawa, bahwa hidup di dunia hanya sebentar, ibarat singgah untuk minum. Olah karena itu dunia fana ini disebut Alam Madya, atau Madyapada artinya dunia yang terletak di tengah antara Alam Purwa dan Wasana. Tetapi Alam Purwa dan Alam Wasana itu hakekatnya adalah satu, seperti bait terakhir mocopat Durma “mulih mula mulanya”, yang artinya kembali ke asal mula.

Sukma
Luhur
Mutmainah Luamah
Jiwa
Amanah Supiah
Pikir dan Rasa pada Sifat Manusia

PENUTUP

Motif kaligrafi Arab pada batik Dodot Bedhaya Anglir Mendung Praja Mangkunegaran yang berwujud manusia dengan wataknya, yaitu amarah, luamah, muthmainah, dan sufiah yang dipadu dengan warna putih, kuning emas, dan hitam. Watak manusia yang dipadu dengan warna batik pada Dodot Bedhaya Anglir Mendung melambangkan suatu kehidupan manusia.


Manusia dalam hidupnya kadang berbuat baik dan tidak baik, namun pada dasarnya manusia berusaha berbuat baik kepada sesamanya dan Yang Maha Kuasa guna mencapai kesempurnaan untuk mencapai tujuan akhir. Kefahaman ini dalam mitologi Jawa disebut Sangkan Paraning Dumadi, seperti motif batik yang ada pada Dodot Bedhaya Anglir Mendung.

 


DAFTAR RUJUKAN

Ngemron, Moch. 1997. Potensi Umat Islam dalam Menghadapi Arus
Budaya Global. Surakarta: Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Partahadiningrat. 1989. Warna ing Alam Kejawen. Yogyakarta: Joko Lodang
Pujiyanto. 1997. Kajian Batik Keraton Surakarta. Bandung: Institut
Teknologi Bandung.
Pujiyanto, Keindahan Motif Kaligrafi Arab 37
Purwadi. 2002. Penghayatan Keagamaan Orang Jawa: Refleksi atas Religiositas Serat Bima Suci. Yogyakarta: Media Pressindo.
Pramono, Tikno. 1957. Batin-Kebathinan-Ilmu Kebatinan. Solo: Musyawarah Kebatinan dan Kebudayaan Solo
Susanto, Sewan 1973. Pembinaan Seni Batik, Seri Susunan Motif Batik.
Yogyakarta: Balai Penelitian Batik dan Kerajinan, dan Gabungan
Koperasi Batik Indonesia (GKBI)
Suyanto.1992. Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa. Semarang: Dahara Prize.
Tiknopranoto. Tt. Sejarah Kuto Solo, Keraton Solo, Bengawan Solo, dan
Gunung Lawu. Solo: Pelajar
Yudoseputro. 1983. Keraton Surakarta Sumbering Kabudayan. Surakarta:
Paguyuban Mekar Budaya Surakarta.

 

note :

Ibu RAy Indri Nitriani (Niniek) Partaningrat memberikan tambahan catatan: Berkat jasa KRMT Sanyoto Sutopo, kanjeng sepuh yang merawat semua pusaka Mangkunegaran, bersama sama dengan KRAy Praptini Partaningrat (pemilik Batik Kanjengan) mencontoh kaligrafi yang ada di rompi yang dikenakan Pangeran Sambernyowo (MN I) untuk hiasan pada dodhot Anglir Mendhung.  

Setelah 145 tahun tertidur, akhirnya Bedhaya Anglir Mendung bisa ditarikan kembali pada acara Pengetan 40 tahun 19 Juli 1944 – 19 Juli 1984 Jumenengan Dalem Sampeyan Ingkang Jumeneng Mangkoenegoro VIII hing Surakarta, surya kaping (pada tanggal) 19 juli 1984. Salah satu penarinya adalah putri dari KRAy Praptini Partaningrat yaitu RAy Niniek Partaningrat yang berperan sebagai pemeran utama (batak) yaitu memerankan tokoh Pangeran Sambernyawa (MN I).


Bagikan Artikel KEINDAHAN MOTIF KALIGRAFI ARAB PADA BATIK DODOT TARI BEDHAYA ANGLIR MENDUNG MANGKUNEGARAN


Komentar Untuk KEINDAHAN MOTIF KALIGRAFI ARAB PADA BATIK DODOT TARI BEDHAYA ANGLIR MENDUNG MANGKUNEGARAN