GENDER DAN PERUBAHAN EKONOMI : PERANAN PEREMPUAN DALAM INDUSTRI BATIK DI YOGYAKARTA 1900-1965 (II)

GENDER DAN PERUBAHAN EKONOMI : PERANAN PEREMPUAN DALAM INDUSTRI BATIK DI YOGYAKARTA 1900-1965 (II)

GENDER DAN PERUBAHAN EKONOMI : PERANAN PEREMPUAN DALAM INDUSTRI BATIK DI YOGYAKARTA 1900-1965 (II)
Oleh: Chusnul Hayati 
Fakultas Sastra UNDIP, Semarang

 

IV. PERANAN PEREMPUAN DALAM INDUSTRI BATIK

Produksi dan distribusi batik sebagai barang komoditi untuk konsumsi umum tampaknya berpengaruh cukup besar terhadap partisipasi wanita. Sifat batik sebagai hasil industri yang membutuhkan kecermatan, kehalusan, dan keindahan sangat sesuai dengan sifat yang dimiliki wanita sehingga sebagian besar proses produksi batik dikuasai oleh wanita. Pada awalnya pembuatan batik dilaksanakan oleh putri-putri keraton sebagai kegiatan spiritual yang membutuhkan konsentrasi, kesabaran, dan pembersihan pikiran melalui doa-doa. Hingga akhir jaman penjajahan Belanda, bangsawan putri masih harus mengalami masa pingitan. Mereka hanya memperoleh sedikit pendidikan sekolah dan pengetahuan umum yang dapat diserap kecuali ketrampilan menyulam, memasak, membordir, membatik, membaca dan menulis.[17] Untuk mengisi waktu, membatik berkembang menjadi kegiatan industri rumah tangga yang dikelola oleh keluarga kraton dan abdi dalem.

Batik sebagai kegiatan dari para putri kraton yang dibantu oleh abdi dalem itu tampaknya didukung oleh kenyataan, bahwa tidak jauh dari kraton Yogyakarta terdapat kampung-kampung yang dikenal sebagai pusat industri batik, seperti Kauman , Prawirataman, Karangkajen, Brantakusuman, Mantrijeron, Yudonegaran, Ratawijayan, Ngadisuryan, Kadipaten, dan Taman Sari. Hingga saat ini kampung-kampung di sekitar Keraton Yogyakarta itu banyak dijumpai pengrajin, pengusaha, pedagang, dan toko-toko batik.

Perdagangan batik di pasar-pasar tradisional sebagian besar dikelola oleh perempuan yang disebut dengan mbok mase, yaitu pedagang batik keliling. Mereka melakukan jual beli bahan dasar batik dan kain batik. Perempuan mengambil peranan 75 % dalam proses produksi dan distribusi dari seluruh aktivitas perusahaan batik milik keluarga. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa peran ibu rumah tangga di Jawa lebih dominan dalam kebijakan di bidang ekonomi dari pada ayah sebagai kepala rumah tangga.[18]

Sampai dengan tahun 1940-an, putri-putri keraton masih mendapatkan pelajaran membatik.[19] Perkembangan pendidikan ternyata berpengaruh terhadap perkembangan batik di kalangan kaum wanita Jawa, terutama bagi anak-anak dan remaja putri. Pada waktu itu kegiatan membatik hanya menjadi pengisi waktu luang di luar jam sekolah. Oleh karena itu, kemudian membatik banyak dilakukan oleh orang-orang tua atau wanita yang telah menikah.

Peran orang Cina terhadap perkembangan batik sangat dominan, yaitu sebagai pembuka jalan dalam perdagangan batik. Perempuan-perempuan desa yang menghasilkan batik untuk dipakai sendiri atau dijual ke desa-desa lain diorganisir oleh pengusaha Cina untuk dipasarkan secara luas.[20] Orang-orang desa kebanyakan bekerja sebagai buruh pada pengusaha batik. Buruh batik itu mengambil pekerjaan dari pengusaha dan mengerjakan di rumahnya sendiri.

Ada juga yang menetap sementara waktu pada majikannya sampai masa panen atau masa mengerjakan sawah dimulai. De Kat Angelino adalah ahli yang pertama kali memperkenalkan penelitian tentang industri batik di Indonesia. Ia menyatakan bahwa seni membatik adalah seni yang populer. Dalam laporannya ia menggambarkan bahwa terdapat ribuan pengobeng yaitu pekerja batik perempuan yang melakukan perjalanan dari desa ke kota pantai utara Jawa untuk mengambil kain guna dibatik. Penghasilan mereka berasal dari ketrampilan membatik.

Ada juga yang suka mengambil kain dari pengusaha untuk dibatik, kemudian dibagi-bagikan kepada buruh batik. Pada kasus ini, buruh batik menerima upah dari maklar atau pengambil kain. Upah mereka tidak sebesar upah yang mereka terima jika kain mereka ambil sendiri dari pengusaha. Jadi waktu itu telah muncul maklar atau perantara dalam perburuhan batik. Dengan demikian terdapat dua majikan dalam perburuhan batik. Pertama, pengusaha yang memiliki modal dan yang ke dua, majikan yang mendistribusikan kain untuk dibatik. Pada kasus ini majikan yang sesungguhnya adalah pengusaha batik itu sendiri, karena baik buruh batik mau pun maklar masing-masing memperoleh upah dari pengusaha.

Perempuan bangsawan pengusaha batik yang berstatus tinggi dalam memproduksi batik tidak sama dengan orang-orang Cina dan orang Jawa kebanyakan. Pengusaha bangsawan hanya memproduksi batik dengan kualitas tinggi, lebih halus, serta memperhatikan corak yang rumit. Mereka jarang mengusahakan batik cap, karena corak tradisional yang rumit sukar dikerjakan dengan cap. Mereka menganggap, batik cap itu kasar, baik dari segi bahan maupun hasil gambarnya.

Bangsawan pengusaha batik tidak hanya menggantungkan nafkahnya dari batik. Oleh karena itu, meski pun batik cap lebih menguntungkan baik dari segi jumlah produksi mau pun waktu pembuatan yang lebih singkat, namun mereka tidak tertarik untuk menghasilkan batik cap. Sehelai kain batik tulis baru bisa diselesaikan dalam waktu enam bulan, sedang batik cap seahri dapat menghasilkan 15 potong kain.

Dua wanita Belanda kakak beradik dengan nama keluarga Gobe mendirikan perusahaan batik bernama Kunstarbeid di Yogyakarta pada sekitar 1900. Selain produk batik, di toko mereka yang terletak di dekat stasiun kerta api juga dijua hasil kerajinan perak Yogya, ukiran kayu, dan produk kerajinan seni lainnya. Mereka mengikuti gaya desain aliran Nieuwe Kunst yang mencari bentuk seni kerajinan baru sebagai reaksi terhadap produk industri yang dibuat secara massal. Produk batiknya berupa keperluan sehari-hari dari bahan katun atau sutera yang dibatik misalnya taplak, sarung bantal, selubung teko teh, tas wanit, sampul buku, pelapis bingkai foto, dan sebagainya. Mereka menggunakan pola-pola Vorstenlanden yang distelisasikan. Warna-warna yang diterapkan juga bercorak Vorstenlanden yaitu biru nila dan merah soga. Pada tahun 1930 perusahaan batik mereka masih berdiri, sementara banyak perusahaan batik canting lainnya tidak bisa bertahan sebagai akibat krisis ekonomi yang melanda seluruh dunia.

Di samping dua kakak beradik keluarga Gobe tersebut, Ny. Ter Horst juga mendirikan perusahaan batik di Yogyakarta pada awal abad ke-20. Ia juga mengikuti aliran Nieuwe Kunst. Produknya berupa bahan pakaian, berbagai pajangan dan hiasan, sarung bantal, taplak meja, dan tas wanita. [21]

Batik dapat berkembang hingga saat ini karena pihak keraton telah menempatkan batik sebagai kelangkapan busana dan simbol kedudukan atau jabatan seseorang. Tradisi menggunakan batik sebagi busana menempatkan posisi batik sebagai warisan budaya yang telah dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan jaman. Adanya kebanggaan untuk menggunakan batik sebagai busana faktor pendukung mengapa batik terus mengalami perkembangan hingga saat ini.

Faktor pendukung lain yaitu adanya spesifikasi batik sebagai busana yang membedakan busana dari bahan lain, terutama karena batik memiliki nilai yang tinggi yang berisikan konsepsi-konsepsi spiritual dalam bentuk-bentuk simboilik filosofis. Bahan busana lain diciptakan hanya semata-mata atas dasar nilai-nilai estetika, tidak memiliki makna simbolis. Sementara itu ornament batik menunjukkan dengan jelas poancaran nilai-nilai simbolik yang berhubungan erat dengan latar belakang pembuatan, penggunaan, dan kekuatan mistik. Penataan ornamen-ornamen dan pewarnaan merupakan peleburan nilai estetika, filosofi hidup, dan lingkungan alam keraton. Karya agung itu berhubungan dengan pandangan hidup dan tradisi-tradisi yang berlaku di keraton yang hingga saat ini masih dilestarikan sebagai busana yang kaya maksna simbolis.[22]

Kemajuan ilmu dan teknologi mengakibatkan nilai-nilai tradisional mulai berubah ke arah masyarakat modern. Fungsi batik tidak terbatas hanya menjadi bahan sandang saja, tetapi dalam fungsi yang lebih luas. Muncul para pengusaha batik yang menciptakan batik untuk berbagai kenis keperluan rumah tangga seperti taplak meja, sarung bantal, seprei, hiasan, dan berbagai macam asesoris. Pada perkembangan berikutnya, batik tidak hanya melahirkan pengusaha dan pedagang batik tetapi juga seniman batik yang dipelopori oleh Amri Yahya yang banyak menghasilkan lukisan batik dan kaligrafi.

Kegiatan industri dan perdagangan batik ternyata mampu meningkatkan kesejahteraan harkat dan hidup ekonomi penduduk Yogyakarta. Bahkan di antara mereka yang berhasil telah dapat membuka usaha toko batik, art shop, atau galleri sebagai perluasan usaha dan tempat penampugan hasil indutri. Kondisi ini hingga sekarang masih bisa kita saksikan seperti toko-toko batik di Jalan Malioboro Jl. K.H.A. Dahlan. Jl. Nyai Ahmad Dahlan, Jl. Rotowijayan, Taman Sari, Jl. Kadipaten, Jl. Prawirotaman, dan sebagainya. Perempuan banyak terlibat dalam usaha-usaha itu, baik seabgai pengusaha maupun tenaga kerja. Partisipasi perempuan dalam industri dan perdagangan batik itu tentu saja berpengaruh positif bagi kesejahteraan ekonomi keluarga.


V. SIMPULAN

Keterlibatan perem,puan dalam industri dan perdagangan batik telah dimulai sejak awal abad ke-19. kemorosotan ekonomi telah mendorong perempuan ikut melakukan kegiatan ekonomi. Hal ini dapat dipahami karena dalam keluarga, perempuan memegang posisi utama sebagai pengelola keuangan keluarga.

Industri dan perdagangan batik telah membrikan peluang ekonomi bagi perempuan. Proses pembuatan batik tradisional/canthing lebih banyak membutuhkan tenaga kerja perempuan dari pada laki-laki, karena sifat pekerjaannya lebih sesuai dengan karakter perempuan.

Beralihnya kegiatan yang bersifat non profit menjadi kegiatan yang bersifat komersial mengakibatkan banyak bermunculan industri-industri rumah tangga yang mengerjakan kerajinan batik. Perubahan dari hasil kerajinan menjadi hasil industri sandang telah menempatkan batik sebagai bagian dari industri kerajinan. Kehadiran batik telah dirasakan manfaat ekonomisnya bagi masyarakat, berupa penambahan penghasilan keluarga bagi pengrajin, pedagang batik, maupun buruh batik. Perkembangan industri dan perdagangan batik telah berperan dalam perluasan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja untuk meningkatakan kesejahteraan keluaraga. Dengan beralihnya batik menjadi hasil industri mendorong partisipasi perempuan semakin meningkat. Semarang, 1 November 2006.


DAFTAR BACAAN

Angelina P de Kat. 1920. Batikrappor II. Weltevreden : Landsdrukkerij.
Anonim. Laporan Khusus : Batik Tradisional Makin Terpojok, Labelisasi untuk Apa?, Prisama, Agustus, 1982, Jakarta : LP3ES.
Anonim. 1935. Voorstenlanden, Gegeven Over Batik Bedrijf in Solo, Kolonial Studien, Gradenracht, Scholonreracht.
Carey. Peter and Vincent Houben. 1987. Sprited Srikandhis and Sly Sumbadras the Social, Political and Economic Role of Women at the Central Javanese Ourts in the 18 th and Early 19 th Centuries”, dalam Elisabeth Locher Scholten and Anke Nichof (ed.), Indonesian Women in Focus and Present Notions, (Dorde-Hjolland/Providence U.S.A.: Foris Publications
Cleves Mosse, Julia. 1996. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Condronegoro, Mari S. 1995. Busana Adat Kraton Yogyakarta. Makna dan Fungsi dalam Berbagai Upacara. Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusantara
Crawfurd, J. 1820. History of the Indian Archepilago II. Edinburg : Aechibold Constable.
Doellah, Santoso. 2002. Batik : The Impact of Time and Environment. Surakarta : Danar Hadi.
Geertz, Hildred. 1983. Keluarga Jawa. Jakarta : Grafiti Pers.
Hardjosuwignjo, Bintarto. 1985. Industri Batik di Jawa Tengah. Cetakan Kemabli dari Ekonomi dan Keuangan Indonesia.

Houben, J.H. Vincent. 2002. Keraton dan Kompeni : Surakarta dan Yogyakarta 1830 – 1870, Yogyakarta : Bentang Budaya.

Jasper, J. E. Dan Mas Pierngadi. 1916. De Batikkunst. De Inslandsche Kunstnijverheid in NederlandIndie Vol II. The Hague, Meuton.

Kat Angelino, P. De. 1920. Batikrapport II. Weltrevreden : Landsdrukkerij.

Koperberg, S. De Javaansche Batikindustrie. Perpustakaan Reksopustoko, Surakarta.

KPH Mandoyokusumo, 1988. Serat Raja Putra Ngajogyokarto Hadiningrat, Yogyakarta : Museum Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat.

Mook, Van. 1972. Kuta Gede. Diterjemahkan dengan Pengawasan Dewan Redaksi dengan kata pengantar oleh Harsya W. Bachtiar. Djakarta : Bhratara.

Muhaimin, Yahya A. 1991. Bisnis dan Politik : Kebijaksanaan Ekonomi Indonesia 1950-1980. Jakarta : LP3ES.

Palmier, L.H. 1956. Social Status and Power in Java. London : Athlone Press

Raffles, Thomas Stamford. 1987. History of Java. Reprint Kuala Lumpur : Oxford University Press.

Soemardjan, Selo. 1981. Perubahan Sosial di Yogyakarta. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Susanto, Sewan S.K. 1980. Seni Kerajinan Batik Indonesia. Yogyakarta : Balai Pendidikan Batik dan Kerajinan Lembaga Penelitian dan Pendidikan Industri, Departemen Perindustrian RI.

Surjomihardjo, Abdurrachman. 2000. Kota Yogyakarta 1880-1930, Sejarah Perkembangan Sosial Yogyakarta. Yogyakarta : Yayasan Untuk Indonesia.

Veldhuisen, Harmen C. 1993. Batik Belanda 1840-1940’ Dutch Influence in Batik From Java History and Stories. Jakarta : Gaya Favorit Press.

Yahya, Amri. 1985. Sejarah Perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia. Yogyakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nusantara (Javanologi).

1 Julia Cleves Mosse, Gender dan Pembangunan (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1996), hlm 8.
[2] Hilderd Geertz, Keluarga Jawa (Jakarta : Grafiti Pers, 1983), hlm. 129-134
[3] Vincent J.H. Houben, Keraton dan Kompeni : Surakarta dan Yogyakarta 1830-1870 (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2002), hlm. 280-349.
[4] Selo Soemardjan, Perubahan Sosial di Yogyakarta (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1981), hlm. 101-102.
[5] Ibid., hlm. 105
[6] Peter Carey and Vincent Houben, “Sprited Srikandhis and Sly Sumbadras the Social, Political and Economic Role of Women at the Central Javanese Ourts in the 18 th and Early 19 th Centuries”, dalam Elisabeth Locher Scholten and Anke Nichof (ed.), Indonesian Women in Focus and Present Notions, (Dorde-Hjolland/Providence U.S.A.: Foris Publications, 1987), hlm. 35
[7] KPH Mandoyokusumo, Serat Raja Putra Ngajogyokarto Hadiningrat (Yogakarta: Museum Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat, 1988), hlm. 9.
[8] Amri Yahya, Sejarah Perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia (Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nusantara/Javanologi, 1985), hlm. 52.
[9] H. Santosa Doellah, Batik:The Impact of Time and Environment (Surakarta: Danar Hadi, 2002).
[10] Harmen C, Veldhuisen, Batik Belanda 1840-1940 Dutch Influence in Batik from Java: History and Stories (Jakarta: Gaya Favorit Press, 1993), hlm. 28
[11] Thomas Stamford Raffles, History of Java (reprint Kuala Lumpur : Oxford University Press, 1987), p. 168-169
[12] S. Koperberg, De Javaansche Batikindustrie, p. 148.
[13] Ibid., hlm. 149
[14] Abdurrachman Suryomihardjo, Kota Yogyakarta 1880-1930, Sejarah Perkembangan Sosial Yogyakarta (Yogyakarta : Yayasan untuk Indonesia, 2000), hlm. 38
[15] Yahya A. Muhaimin, Bisnis dan Politik : Kebijakan Ekonomi Indonesia 1950-1980 (Jakarta:LP3ES, 1991) hlm. 235.
[16] Anonim, Laporan Khusus : Batik Tradisional Makin Terpojok, Labelisasi untuk Apa?, Prisma, Agustus, 1982, Jakarta : LP3ES, hlm. 74-75.
[17] Mari S. Condronegoro, Busana Adat Kraton Yogyakarta:Makna dan Fungsi dalam Berbagai Upacara (Yogyakarta:Yayasan Pustaka Nusatama, 1995), hlm. 11.
[18] Voorstenlanden, Gegeven Over Batik Bedrijf in Solo, Kolonial Studien, (Gradenracht, Scholonreracht, 1935). Hlm. 59
[19] L.H. Palmier, Social Status and Power in Java (London: Athlone Press, 1956).
[20] Ibid., hlm. 86
[21] Harmen C. Veldhuisen, op. Cit, hlm. 114-118
[22] H. Santosa Doellah, op. Cit., hlm. 54.


Bagikan Artikel GENDER DAN PERUBAHAN EKONOMI : PERANAN PEREMPUAN DALAM INDUSTRI BATIK DI YOGYAKARTA 1900-1965 (II)


Komentar Untuk GENDER DAN PERUBAHAN EKONOMI : PERANAN PEREMPUAN DALAM INDUSTRI BATIK DI YOGYAKARTA 1900-1965 (II)